SULAWESI TENGAH — Max Dowman menjadi pemain termuda yang menerima kartu merah dalam laga Piala Liga pada usia 16 tahun 300 hari ketika Arsenal tersingkir oleh Fleetwood Town lewat adu penalti. Reaksi emosional sang remaja terhadap tekel keras Harrison Neal berujung kartu langsung, dan Mikel Arteta tidak menyembunyikan kekecewaannya di pinggir lapangan.
Kekalahan Arsenal dari Fleetwood Town di ajang Carabao Cup menjadi pukulan telak. Klub League Two yang berada 84 tingkat di bawah Arsenal dalam piramida sepak bola Inggris memaksa The Gunners menyerah lewat drama adu penalti, dan malam itu tercatat sebagai salah satu kejutan terbesar di kompetisi ini.
Namun sorotan utama justru tertuju pada momen ketika Dowman diusir wasit Michael Salisbury. Insiden bermula dari tekel agresif Harrison Neal yang memancing reaksi sang penyerang muda. Dowman mengangkat lutut kanannya ke arah Neal, dan wasit menilai tindakan itu melampaui batas.
Arteta Beri Teguran Langsung di Pinggir Lapangan
Saat Dowman berjalan meninggalkan lapangan, Arteta berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pelatih asal Spanyol itu melontarkan beberapa kalimat tegas ke arah pemainnya sebelum Dowman menunduk masuk ke terowongan menuju ruang ganti.
Isi teguran Arteta tidak terdengar jelas, tetapi reaksi tubuhnya berbicara banyak. Dalam konferensi pers usai laga, Arteta menegaskan bahwa timnya sudah mempersiapkan diri menghadapi tekanan emosional di pertandingan tersebut.
"Itu sesuatu yang sudah kami diskusikan sebelum pertandingan," kata Arteta. "Kami tahu ketika kami menyiapkan konteks pertandingan, kami sangat jelas soal hal-hal yang harus kami antisipasi, hal-hal yang secara emosional harus kami kendalikan."
Keputusan Wasit Dipertanyakan, Arsenal Ajukan Banding
Kerasnya hukuman yang diterima Dowman menuai perdebatan. Kekuatan dorongan lutut Dowman dinilai minimal, dan wasit sebenarnya bisa memilih memberi kartu kuning kepada kedua pemain untuk meredam situasi.
Arsenal berencana mengajukan banding atas kartu merah tersebut. Jika banding ditolak, Dowman akan menjalani skorsing tiga pertandingan domestik. Ia dipastikan absen saat Arsenal bertandang ke Liverpool, serta dua laga berikutnya melawan Hull dan Newcastle.
Waktu skorsing ini sangat merugikan Arsenal. Cedera paha Bukayo Saka diperkirakan membuatnya absen beberapa pekan, sementara Noni Madueke tidak ikut ke Fleetwood karena masalah pergelangan kaki. Kondisi itu seharusnya membuka peluang lebih besar bagi Dowman tampil di Premier League.
Rekor dan Tekanan yang Mengiringi Bakat Muda Hale End
Dowman bukan nama baru di sepak bola Inggris. Tahun lalu ia menjadi pemain pertama berusia 15 tahun yang tampil di Liga Champions. Pada Maret, ia memecahkan rekor pencetak gol termuda Premier League saat Arsenal menghadapi Everton.
Pemain kelahiran akademi Hale End ini sudah berlatih bersama tim utama sejak usia 14 tahun. Arsenal sangat berhati-hati agar tidak mengeksposnya secara berlebihan. Arteta bahkan menahan diri memberi menit lebih banyak di Premier League setelah Dowman mencetak dua gol melawan Ipswich di putaran sebelumnya.
Insiden di Fleetwood bukan kartu merah pertamanya. Bulan lalu, Dowman juga diusir saat memperkuat timnas Inggris U-19 melawan Amerika Serikat akibat tekel yang dinilai terlalu keras. Dalam laga itu, ia disebut menerima banyak tekel keras dari lawan.
Pelajaran dari Bukayo Saka yang Diingat Arteta
Arteta pernah meminta Dowman meniru cara Bukayo Saka menghadapi tekanan. Menurutnya, pemain bertalenta besar selalu menjadi target kontak fisik dan perhatian lawan.
"Ini akan terjadi, dia harus belajar kapan melepas bola dan kapan menarik posisi awalnya," ujar Arteta. "Sangat mirip dengan Bukayo di awal. Pemain seperti itu akan menarik pemain lawan, kontak, perhatian, dan mereka harus sangat pintar soal kapan menginginkan kontak itu dan kapan tidak."
Soal reaksi Dowman terhadap provokasi, Arteta mengaku sering terkejut dengan ketenangan sang pemain. "Dia hanya bangkit. Sangat jarang! Kadang saya terkejut secara emosional betapa tenangnya dia," katanya.
Kritik juga datang dari Paul Merson. Mantan pemain Arsenal itu mempertanyakan apakah Arteta akan melakukan hal berbeda jika diberi kesempatan mengulang momen teguran publik tersebut. Terlepas dari itu, tantangan terbesar kini ada di tangan Dowman: bagaimana ia merespons pengawasan ekstra, di dalam maupun di luar lapangan.