SULAWESI TENGAH — Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian nasional setelah Presiden Prabowo Subianto turun langsung ke lapangan. Kepala Negara tiba di Desa Limbung pukul 13.30 WIB dengan mengenakan baju safari cokelat dan tanpa masker di tengah kabut asap yang masih pekat.
Pantauan di lokasi menunjukkan lahan-lahan di kawasan tersebut didominasi vegetasi semak belukar, pepohonan, hingga rumpun bambu yang hangus. Batang-batang pohon tampak gosong berwarna cokelat kehitaman, sementara aroma gosong tercium menyengat. Tanah gambut yang terbakar terasa lunak ketika diinjak, menandakan api telah menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan.
Pemadaman Darurat dan Dukungan TNI AD
Petugas gabungan telah dikerahkan untuk memadamkan titik api yang tersebar di Kecamatan Sungai Raya, salah satu wilayah dengan hotspot karhutla terbanyak di Kalbar. Sejumlah water tank milik TNI Angkatan Darat disiagakan untuk mempercepat proses pendinginan lahan yang masih terbakar.
Warga sekitar turut memantau jalannya operasi pemadaman. Mereka berharap api segera padam sepenuhnya agar kabut asap yang mengganggu aktivitas dan kesehatan bisa cepat hilang.
Pejabat Negara Turun ke Lokasi
Dalam kunjungan kerja tersebut, Presiden Prabowo didampingi sejumlah pejabat tinggi negara. Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi tampak hadir mendampingi Kepala Negara.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Herindra, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga ikut dalam rombongan. Para pejabat yang mendampingi kompak tidak mengenakan masker selama proses peninjauan berlangsung.
Ancaman Kabut Asap bagi Warga dan Lingkungan
Kabut asap yang menyelimuti Desa Limbung membuat jarak pandang terbatas dan kualitas udara menurun drastis. Kondisi ini berisiko mengganggu kesehatan warga, terutama anak-anak dan lansia yang rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Karhutla di lahan gambut juga menjadi perhatian serius karena dampaknya terhadap emisi karbon dan kerusakan ekosistem. Lahan gambut yang terbakar membutuhkan waktu lama untuk pulih, dan proses pemadaman di lapisan bawah permukaan jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa.
Operasi pemadaman di Desa Limbung masih terus berlanjut hingga saat ini. Pemerintah daerah bersama TNI dan Polri diharapkan mampu mengendalikan seluruh titik api sebelum kabut asap menyebar lebih luas ke wilayah permukiman dan kota-kota sekitarnya di Kalimantan Barat.