PALU — Rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Sulawesi Tengah tahun ini berlangsung berbeda. Selain upacara seremonial, masyarakat diajak berkumpul dalam Dero Merdeka, sebuah perayaan seni tari pergaulan khas daerah yang digelar di halaman Jodjokodi Convention Center (JCC) Palu selama tiga malam, 18–20 Agustus 2026.
Kegiatan ini diinisiasi oleh panitia pelaksana dan komunitas budaya setempat. Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, Diah A. Entoh, menilai inisiatif tersebut layak diapresiasi karena menghidupkan tradisi di tengah arus zaman.
Bukan Hiburan Biasa, tapi Ruang Bertemu Warga
Diah menegaskan Dero memiliki nilai sosial yang kuat. Tarian pergaulan ini mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang ada di Sulawesi Tengah.
“Main kartu merupakan salah satu kearifan lokal. Begitu juga dengan Dero yang merupakan bagian dari budaya masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat yang memang pencinta Dero dapat menyalurkan hobinya di tempat yang telah difasilitasi dengan baik oleh panitia pelaksana,” ujarnya di JCC Palu, Selasa (18/8).
Menurutnya, keberagaman yang ada di provinsi ini harus dirawat lewat kegiatan yang mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan. “Ini menjadi bagian dari upaya menguatkan rasa persaudaraan dan persatuan. Kita memiliki berbagai suku dan budaya, sehingga kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk berkumpul, bersilaturahmi dan menikmati kebersamaan dengan penuh kegembiraan,” kata Diah.
Peluang Ekonomi bagi Pelaku UMKM Lokal
Dampak kegiatan ini tidak berhenti pada aspek sosial. Diah menjelaskan, mobilisasi masyarakat dalam jumlah besar selama tiga malam otomatis membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
“Dengan adanya mobilisasi masyarakat melalui kegiatan seperti ini, tentu ada perputaran ekonomi. UMKM juga mendapatkan manfaat karena masyarakat yang hadir akan berbelanja dan memenuhi berbagai kebutuhannya selama kegiatan berlangsung,” jelasnya.
Makanan, minuman, hingga produk lainnya menjadi kebutuhan utama pengunjung. Kondisi ini membuat Dinas Pariwisata memandang agenda kebudayaan semacam ini sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis masyarakat yang perlu dikelola berkelanjutan.
Menjaga Identitas Budaya untuk Generasi Muda
Di tengah gempuran hiburan modern, keberadaan Dero Merdeka dinilai penting untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada generasi penerus. Diah menyampaikan terima kasih kepada komunitas yang telah berinisiatif menyelenggarakan acara ini.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia pelaksana dan komunitas yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan budaya dan seni tari Dero. Kami bersyukur ada komunitas yang memiliki kepedulian dan keinginan untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan budaya seperti ini,” ungkapnya.
Dinas Pariwisata berharap kegiatan ini tidak berhenti pada perayaan kemerdekaan, tetapi terus berkembang menjadi agenda budaya rutin. Semangat kemerdekaan, lanjut Diah, tidak hanya diwujudkan lewat seremonial, tetapi juga melalui kebersamaan dan penghargaan terhadap keberagaman identitas daerah.