PALU — Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, memanfaatkan momentum Dies Natalis Ke-45 dan Wisuda periode ke-138 untuk memamerkan peran nyata kampus dalam program ketahanan pangan nasional. Di hadapan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Rektor Untad Prof Amar menegaskan bahwa pihaknya sudah bergerak sejak 2025, tidak hanya menunggu instruksi dari pusat.
"Bagi Untad, ketahanan pangan bukan hanya sebuah wacana. Untad sudah bergerak, pada tahun 2025, Untad sudah mengambil bagian dalam program swasembada pangan," kata Prof Amar di Palu, Kamis.
Lahan Perhutanan Sosial di Sigi Jadi Lokasi Penanaman Jagung
Salah satu aksi yang sudah berjalan adalah penanaman jagung serentak yang memanfaatkan lahan perhutanan sosial di Kabupaten Sigi. Kegiatan ini dianggap penting karena mempertemukan pemerintah, kampus, mahasiswa, dan masyarakat dalam satu semangat membangun kemandirian pangan dari daerah.
Kampus tidak berhenti di situ. Pada 2026, Untad menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi di Kabupaten Donggala dengan salah satu tema utamanya adalah ketahanan pangan.
"Bagi Untad, mahasiswa bukan hanya belajar di ruang kelas. Tetapi bagaimana mahasiswa menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat," tegasnya.
Melon Premium hingga Semangka AI: Wajah Pertanian Masa Depan
Untad tidak hanya mengandalkan cara konvensional. Sejumlah produk riset unggulan dipamerkan untuk menunjukkan bahwa pertanian modern berbasis teknologi adalah masa depan. Salah satunya adalah Melon Premium Smart Farming yang dikembangkan dengan metode rumah kaca dan hidroponik di lahan seluas 300 meter persegi.
Dari lahan tersebut, potensi keuntungan yang dihitung mencapai Rp25 juta setiap tiga bulan. Ada pula pengembangan semangka berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) yang digunakan untuk memantau kelembaban tanah, suhu, dan kualitas lingkungan tanaman secara real-time.
Kolaborasi dengan Industri IMIP untuk Ketahanan Pangan
Riset kampus juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar industri. Tanaman ketimun dikembangkan khusus untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri IMIP di Morowali. Langkah ini disebut sebagai wujud kolaborasi kampus, masyarakat, dan industri dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Tidak melupakan potensi lokal, Untad juga serius menggarap riset padi lokal atau padi gogo. Penelitian menyasar jalur padi lokal, karakter agronomis, hingga upaya peningkatan produktivitas di tengah tantangan cekaman lingkungan.
"Inilah gambaran pertanian masa depan yang ingin dibangun, yakni pertanian yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, data dan nilai tambah bagi petani," kata Prof Amar.
Kehadiran Menteri Pertanian dalam acara tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Untad untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi di daerah mampu menjadi lokomotif pembangunan, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.