SIGI — Tiga kecamatan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yakni Marawola, Gumbasa, dan Dolo Barat, menjadi wilayah dengan laporan karhutla terbanyak sepanjang Agustus. Dua kecamatan lain, Sigi Kota dan Dolo Selatan, juga mencatatkan kejadian serupa dalam periode yang sama.
Kabid Bencana BPBD Sigi, Ahmad Yani, mengatakan usulan status siaga darurat ini disiapkan untuk memperkuat koordinasi penanganan di lapangan. Status tersebut nantinya menjadi dasar pengerahan personel gabungan serta pengalokasian anggaran dan sumber daya pendukung.
Pemicu Karhutla: Vegetasi Kering Akibat El Nino
Kondisi kekeringan ekstrem yang dipicu El Nino membuat vegetasi dan rumput di area pegunungan serta permukiman sangat kering. Percikan api kecil pun dengan mudah memicu kebakaran yang merambat cepat ke lahan pertanian dan perkebunan warga.
BMKG memprakirakan fenomena El Nino mencapai puncaknya pada Agustus ini, sehingga potensi karhutla dipastikan masih akan meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Ancaman Karhutla bagi Warga dan Lahan Produktif
BPBD Sigi mencatat sejumlah ancaman yang mengintai masyarakat, mulai dari kebakaran yang mendekati permukiman hingga gangguan asap yang mulai mengganggu aktivitas harian. Lahan pertanian dan perkebunan warga juga berada dalam ancaman serius.
"Tentunya kondisi cuaca ekstrem ini menyebabkan vegetasi dan rumput di area pegunungan serta pemukiman sangat kering dan mudah terbakar hanya karena percikan api kecil," ujar Ahmad Yani di Dolo, Senin.
Langkah Antisipasi: Larangan Bakar Lahan dan Sampah
BPBD Sigi telah melibatkan pemerintah desa, kecamatan, TNI, dan Polri dalam penanganan karhutla. Masyarakat diimbau untuk menghindari pembakaran lahan maupun sampah selama masa rawan ini.
Rencana penetapan status siaga darurat ini juga menjadi pedoman pemerintah daerah dalam melaksanakan kesiapsiagaan, pencegahan, pemantauan, dan deteksi dini terhadap ancaman karhutla.
"Saat ini kami sedang menyusun untuk langkah antisipasi karhutla melalui mekanisme siaga darurat tersebut," kata Ahmad Yani menambahkan.