PALU — Para wisudawan dan mahasiswa Untad tidak hanya membawa pulang ijazah dari kampus. Mereka juga berpeluang membawa pulang traktor dan bibit gratis untuk memulai usaha tani, asalkan siap menunjuk lahan yang akan digarap.
"Hand tractor gratis. Mau tanam bibit ada, ada bibit untuk Sulteng. Bibit kelapa, kakao, itu gratis. Tinggal tunjuk lahan ke dinas," kata Andi Amran Sulaiman di sela kegiatan Dies Natalis Ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako periode ke-138 di Palu, Kamis.
Paket Bantuan untuk Petani Muda
Dalam kesempatan itu, Mentan secara langsung mengajak sejumlah lulusan dan mahasiswa ke podium untuk mendengarkan aspirasi mereka. Bantuan yang disiapkan tidak hanya satu jenis, melainkan satu paket lengkap untuk menunjang produktivitas pertanian.
- Traktor tangan dan traktor roda empat
- Combine harvester untuk panen
- Sumur bor untuk irigasi lahan
- Ternak kambing sebagai usaha penunjang
Mentan menyebut Sulawesi Tengah memiliki lahan dan sumber daya pertanian yang luas. Potensi ini dinilai belum tergarap maksimal, sehingga generasi muda diminta mengambil peran untuk mengelola dan membuka lapangan kerja baru.
Anggaran Rp 9,5 Triliun untuk Kebun Rakyat
Selain alsintan, pemerintah juga menyiapkan bibit kelapa dan kakao bagi masyarakat yang memiliki lahan. Ini bagian dari program pengembangan tujuh komoditas strategis yang mencakup kakao, kelapa, tebu, kopi, pala, mete, dan kemiri.
Untuk program tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran mencapai Rp 9,5 triliun dengan target pengembangan 870 ribu hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri sekaligus menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.
Kampus Jadi Titik Tumbuh Wirausaha Pertanian
Mentan Amran menekankan bahwa ilmu yang diperoleh mahasiswa selama kuliah harus menjadi modal untuk mengembangkan sektor pertanian di daerah. Ia mendorong lulusan Untad untuk tidak sekadar mencari kerja, tetapi justru menciptakan lapangan kerja.
Melalui skema ini, kampus diharapkan menjadi simpul lahirnya wirausaha muda pertanian yang mandiri. Pemerintah menyediakan alat dan bibit, sementara para lulusan menyiapkan ide usaha dan mengelola lahannya secara produktif.
Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Sulteng, sekaligus mendorong tumbuhnya usaha baru di kalangan generasi muda.