SULAWESI TENGAH — Sebuah kapal tanker minyak terbakar di Selat Hormuz setelah menghantam ranjau laut, menurut pernyataan Garda Revolusi Iran. Insiden terbaru ini terjadi di jalur pelayaran yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, di tengah pengetatan kendali Teheran atas selat tersebut.
Garda Revolusi Iran menyatakan kapal tanker tersebut melanggar aturan pelayaran yang diberlakukan Teheran. Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, Garda Revolusi menyebut ledakan terjadi di ruang mesin kapal dan memicu kebakaran. Kapal itu disebut sedang berlayar melalui rute selatan yang tidak sah.
Menurut pernyataan yang sama, kapal tanker tersebut mematikan sistem penentuan posisi dan navigasinya sebelum insiden terjadi. Garda Revolusi menegaskan pelanggaran rute menjadi pemicu ledakan.
Kendali Teheran atas Jalur Minyak Dunia
Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz setelah pecah perang melawan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Konflik itu melumpuhkan jalur pelayaran vital yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Republik Islam tersebut kini mewajibkan semua kapal meminta izin sebelum melintas. Aturan ini mengubah peta pelayaran di salah satu choke point energi paling strategis di dunia.
Selat Hormuz selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di perairan ini berpotensi mengguncang harga minyak internasional dan biaya logistik energi, termasuk yang bermuara ke pasar Asia.
Dua Tanker Sebelumnya Ikut Terbakar
Insiden terbaru ini terjadi sehari setelah Garda Revolusi melaporkan dua kapal tanker minyak terbakar di selat yang sama. Keduanya disebut turut menghantam ranjau laut.
Komandan angkatan laut Garda Revolusi, Laksamana Ali Ozmaei, pekan ini memperingatkan kapal yang menonaktifkan sistem navigasinya. Menurutnya, kapal seperti itu akan dianggap sebagai pihak yang bermusuhan.
Peringatan itu kini terbukti bukan ancaman kosong. Tiga tanker terbakar dalam rentang waktu berdekatan menunjukkan risiko nyata bagi pelayaran komersial di perairan tersebut.
Blokade Balasan Amerika Serikat
Amerika Serikat telah menerapkan blokade balasan melalui angkatan laut terhadap ekspor minyak Iran. Langkah Washington itu merupakan tanggapan atas blokade yang diberlakukan Teheran di jalur perairan tersebut.
Dua blokade yang saling berhadapan ini membuat Selat Hormuz menjadi titik ketegangan terbuka. Kapal-kapal tanker yang melintas berada di antara dua kepentingan yang sama-sama menuntut kepatuhan.
Bagi pasar energi, rangkaian insiden ini menambah ketidakpastian pasokan dari kawasan Teluk. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk di Asia, perlu mencermati perkembangan di selat tersebut karena dampaknya bisa merambat ke harga bahan bakar dan ongkos angkut.
Hingga kini belum ada keterangan mengenai identitas kapal tanker yang terbakar maupun jumlah awak di dalamnya. Garda Revolusi juga tidak merinci tingkat kerusakan kapal.