Pencarian

Trump Minta Warga AS Bersabar Terima Harga Bensin Naik 29 Persen Imbas Konflik Iran

Senin, 17 Agustus 2026 • 03:00:31 WIB
Trump Minta Warga AS Bersabar Terima Harga Bensin Naik 29 Persen Imbas Konflik Iran
Warga Amerika Serikat mengantre di stasiun pengisian bahan bakar umum di tengah kenaikan harga bensin rata-rata nasional mencapai USD 4,08 per galon.

SULAWESI TENGAH — Konflik yang dilancarkan AS dan Israel sejak 28 Februari telah menghentikan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, jalur perairan yang menangani seperlima pasokan minyak dunia. Dampaknya langsung terasa di kantong konsumen Amerika, dengan harga bensin rata-rata nasional mencapai USD 4,08 per galon pada Jumat pekan lalu, menurut data American Automobile Association.

Trump bukannya tidak sadar akan beban ini. Dalam rapat umum politik di Garden City, New York, Jumat (14/8) waktu setempat, ia justru meminta warga untuk memaklumi kondisi tersebut. Ia menyebut kenaikan harga bahan bakar adalah harga yang wajar demi memastikan "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir.

Alasan Trump di Balik Kebijakan Energi yang Tidak Populer

Sikap Trump tegas: tidak ada permintaan maaf atas kebijakan yang membebani konsumen ini. Baginya, keamanan nasional jauh lebih penting ketimbang harga bensin yang harus dibayar warganya di SPBU.

"Membayar sedikit lebih mahal untuk bensin Anda sebanding dengan biaya untuk memastikan negara yang sangat jahat tidak dapat memiliki senjata nuklir," ujar Trump di hadapan pendukungnya. Ia bahkan sempat menyatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah konflik usai.

Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan politik domestik yang meningkat. Partai Demokrat berupaya menjadikan dampak perang terhadap biaya energi sebagai isu utama dalam pemilihan kongres November mendatang, mengingat Trump sebelumnya berkampanye dengan janji menurunkan biaya energi.

Iran Menantang dan Blokade Selat Hormuz Berlanjut

Di sisi lain, Teheran menunjukkan sikap menantang. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka dan ditutup di bawah komando Iran. "Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup di bawah komando Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan berhenti berkhayal, Iran akan terus melakukan blokade," tulisnya di X.

Gharibabadi juga mencemooh pernyataan Trump, menyebut Selat Hormuz "tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan atau induk, dengan mengeluarkan perintah atau dengan menyampaikan pidato pemilihan." Belum ada tanda-tanda perundingan damai, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Washington harus memenuhi persyaratan di selat tersebut agar pengiriman minyak dapat dilanjutkan.

Dampak Ganda: Inflasi AS dan Tekanan Ekonomi Iran

Harga minyak mentah berjangka naik USD 1 per barel pada Jumat, dengan harga acuan Brent diperkirakan naik 6,0 persen per minggu dan West Texas Intermediate 5,4 persen. Tren ini memicu inflasi dan mengecewakan para pemilih yang merasakan dampak langsung di kantong mereka.

Namun Iran juga merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Presiden Masoud Pezeshkian, dalam pernyataannya di televisi pemerintah, menyalahkan inflasi tinggi pada blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent berjanji akan mengumumkan langkah-langkah lebih lanjut terhadap Iran, mempertegas bahwa tekanan ekonomi akan terus dijatuhkan hingga konflik menemui titik terang.

Follow paluonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: energyworld.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks