SULAWESI TENGAH — Pasar regional bergerak mixed dengan kecenderungan negatif. Selain KOSPI yang terjungkal, indeks Nikkei Jepang dan Hang Seng Hong Kong juga terpantau turun signifikan, meski tidak sedalam bursa Korea. Investor memilih wait and see di tengah ketidakpastian prospek permintaan chip global.
Saham Teknologi Babak Belur, Minyak Terbang ke Atas
Sektor teknologi menjadi beban utama. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix, dua raksasa semikonduktor Korea, masing-masing jatuh lebih dari 5% pada perdagangan sesi pertama. Sentimen ini menular ke produsen chip lain di Asia seiring ekspektasi pasar terhadap kinerja keuangan TSMC yang dinilai kurang menggembirakan.
Di sisi lain, harga minyak mentah terus meroket. Kontrak berjangka Brent naik 0,6% ke level USD85,45 per barel, memperpanjang kenaikan mingguan menjadi 12%. Lonjakan ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik AS-Iran Panaskan Harga Minyak
Washington kembali melakukan serangan terhadap Iran setelah memberlakukan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan negara tersebut. Langkah ini memicu peringatan keras dari Teheran yang menyebut mereka tengah menghadapi perang eksistensial dengan AS. Ketegangan geopolitik ini langsung mendorong harga komoditas energi ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
"Pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Situasi saat ini membuat premi risiko geopolitik kembali membesar," ujar seorang analis komoditas di Singapura, dikutip dari Reuters.
Obligasi Menguat, Inflasi AS Melandai
Berbeda dengan bursa saham, pasar obligasi Asia justru mencatat penguatan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah turun setelah data inflasi Amerika Serikat terbaru kembali menunjukkan perlambatan. Data ini meredakan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pelaku bisnis dan investor kini mencermati dua arah sekaligus: potensi perlambatan ekonomi akibat konflik energi dan peluang pelonggaran moneter dari AS. Kombinasi ini membuat aliran modal ke aset safe-haven seperti obligasi meningkat.
Investasi mengandung risiko.