PALU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong memastikan belum menerima laporan kerusakan rumah warga akibat gempa magnitudo 6,2 yang berpusat di wilayah kabupaten tersebut. Guncangan yang terjadi Sabtu (15/8) pukul 23.25 WITA itu baru dilaporkan merusak plafon dan dinding kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai mengatakan, Tim Reaksi Cepat (TRC) saat ini masih melakukan asesmen ke wilayah pusat gempa untuk memastikan kondisi terkini. "Kerusakan terjadi pada plafon dan dinding kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Parigi Moutong, sementara rumah warga belum ada laporan kerusakan," kata Rivai saat dihubungi dari Palu, Minggu.
Satu Warga Meninggal, Diduga Kaget Saat Gempa Terjadi
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD setempat, satu orang dilaporkan meninggal dunia. Korban adalah Wiwi Putri Thabah (29), warga Desa Bugis, Kecamatan Mepanga, yang diduga meninggal karena serangan jantung saat gempa terjadi.
Keterangan itu diperkuat dengan surat kematian yang diterbitkan Pemerintah Desa Bugis Nomor 141/050/PM-DBS/SKK/VIII/2026. Surat tersebut menyebutkan Wiwi meninggal dunia pada Sabtu (16/8) pukul 01.00 Wita.
Pusat Gempa 74 Km Barat Daya Parigi Moutong
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan episenter gempa berada pada koordinat 0,25 derajat Lintang Utara (LU) dan 120,22 derajat Bujur Timur (BT). Lokasinya sekitar 74 kilometer barat daya Kabupaten Parigi Moutong dengan kedalaman 44 kilometer.
BMKG memastikan gempa dengan kekuatan magnitudo 6,2 ini tidak berpotensi tsunami. Meski begitu, warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
BPBD Imbau Warga Tak Percaya Isu Hoaks di Media Sosial
Rivai menegaskan petugasnya terus melakukan pemutakhiran data di lapangan. Namun, ia mengakui belum ada angka pasti kerusakan yang bisa dipublikasikan kepada masyarakat saat ini.
Ia meminta warga tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Pastikan informasi bersumber dari BMKG maupun pemerintah daerah (pemda) setempat. Jangan mudah terpancing dengan informasi hoaks terutama informasi yang beredar di media sosial," tuturnya.