SULAWESI TENGAH — PT Kereta Api Indonesia (KAI) meminta PT Industri Kereta Api (INKA) menuntaskan persoalan teknis pada tujuh trainset KRL iE305/CLI-225 yang masih ditemukan usai menjalani pemeriksaan dan perawatan. Permintaan itu disampaikan karena rangkaian produksi INKA tersebut kembali melayani penumpang Commuter Line dengan sejumlah catatan teknis yang belum tuntas.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan, gangguan perjalanan pada jam sibuk berdampak langsung pada mobilitas masyarakat yang mengandalkan Commuter Line setiap hari. Karena itu, KAI menilai setiap kendala pada rangkaian KRL buatan INKA harus ditangani menyeluruh agar aspek keselamatan, kenyamanan, dan keandalan layanan tetap terjaga.
Persoalan ini muncul setelah tujuh trainset KRL iE305/CLI-225 menjalani pemeriksaan dan perawatan. Alih-alih bersih dari masalah, sejumlah catatan teknis justru masih ditemukan ketika rangkaian tersebut kembali dioperasikan untuk melayani penumpang.
Akar Masalah Diminta Diusut Tuntas
KAI tidak hanya meminta perbaikan permukaan. Bobby menegaskan, INKA perlu menelusuri akar persoalan berdasarkan pemeriksaan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami membutuhkan tindak lanjut yang cepat dan tuntas. Setiap kendala harus diketahui akar masalahnya, kemudian diselesaikan dengan langkah korektif yang tepat. KAI akan terus mengawal proses ini sampai keandalan rangkaian benar-benar dapat dijaga dalam operasional,” tutur Bobby melalui keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Pernyataan itu sekaligus menandai posisi KAI sebagai operator yang menanggung risiko reputasi di hadapan pelanggan. Sebab, setiap gangguan sarana yang berdampak pada perjalanan penumpang harus disertai evaluasi dan tindak lanjut yang jelas, bukan sekadar laporan perawatan.
Jam Sibuk Jadi Titik Paling Rawan
Bagi pengguna Commuter Line, waktu tempuh adalah segalanya. Gangguan pada jam sibuk pagi dan sore membuat penumpang kehilangan waktu, tertahan di peron, atau terpaksa mencari moda transportasi lain. Kondisi inilah yang membuat KAI menempatkan keandalan sarana sebagai prioritas.
“Kami sangat memahami ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan ketika perjalanan terganggu, terlebih pada jam sibuk saat kebutuhan mobilitas sangat tinggi. Kami menangani kendala pada KRL INKA ini dengan serius. Layanan kepada masyarakat harus tetap terjaga, aman, dan nyaman,” ujar Bobby.
Tekanan terhadap KAI dan INKA bukan tanpa alasan. Keduanya adalah dua BUMN yang selama ini menjadi tulang punggung rantai industri perkeretaapian nasional, dari produksi sarana di Madiun hingga operasional harian di Jabodetabek. Kegagalan pada satu mata rantai langsung terasa di lapangan.
Ujian bagi Rantai Industri Kereta Nasional
Kasus KRL iE305/CLI-225 memperlihatkan bahwa pengujian dan perawatan pascaproduksi belum sepenuhnya menjawab tuntutan operasional harian. Rangkaian yang sudah keluar dari fasilitas perawatan tetap harus membuktikan keandalannya di jalur dengan intensitas perjalanan tinggi.
KAI menegaskan akan mengawal proses penyelesaian hingga tuntas. Bagi penumpang, yang paling dinanti bukan pernyataan sikap, melainkan perbaikan nyata yang membuat jadwal kereta kembali tepat waktu dan perjalanan harian tidak lagi terganggu.
Bila tuntas, penyelesaian persoalan ini bisa menjadi tolok ukur bagi standar kualitas produk INKA ke depan. Sebaliknya, catatan teknis yang berulang berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap layanan transportasi publik berbasis rel yang setiap hari mereka andalkan.