Bagi penggemar genre horor yang muak dengan jumpscare murahan dan eksposisi bertele-tele, dua rilisan terbaru ini wajib masuk daftar tontonan. Backrooms yang dirilis A24 dan Exit 8 dari Jepang sama-sama mengusung premis "survivalone"—seorang karakter sendirian terjebak di lingkungan aneh dan harus mencari jalan keluar. Tidak ada senjata, tidak ada monster CGI yang mengejar, hanya lorong-lorong yang terasa salah dan lampu neon yang berdengung.
Ruang Kantor Kuning yang Lebih Menyeramkan dari Hantu Manapun
Backrooms dibintangi Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, seorang arsitek yang kehilangan pekerjaan dan rumahnya. Suatu malam, ia menemukan celah cahaya di gudang bawah tanah toko furnitur tempat ia tinggal—dan masuk ke labirin kantor kusam yang tak berujung. Sutradara Kane Parsons membangun ketegangan lewat set praktis seluas 30.000 kaki persegi yang terasa nyata, bukan CGI murahan.
Yang membuat film ini istimewa adalah caranya memvisualisasikan arsitektur yang "salah": dinding yang berhenti di tempat tak semestinya, pintu yang digantung miring, dan sudut-sudut yang terasa janggal. "Klaustrofobia dan agorafobia bercampur jadi satu—kita dikelilingi dinding tapi tahu ada ruang raksasa di baliknya," tulis sang jurnalis dalam ulasannya. Sayangnya, setelah eksplorasi pertama yang brilian, film ini mulai kehilangan momentum saat beralih ke horor eksplisit di babak kedua.
Berjalan di Lorong Subway yang Sama Berulang Kali
Di sisi lain, Exit 8 mengambil pendekatan lebih dekat ke gim aslinya. Kazunari Ninomiya memerankan "The Lost Man" yang terjebak di stasiun kereta bawah tanah Jepang yang terus berulang. Aturannya sederhana: setiap kali berjalan menyusuri koridor, pemain harus mencari "anomali"—perubahan kecil yang terjadi sejak terakhir kali lewat. Satu kesalahan, dan ia kembali ke titik awal.
Film ini menggunakan oner—shot panjang tanpa potongan—yang berlangsung hingga beberapa menit. Penonton diajak berjalan bersama karakter, ikut mencari perbedaan di dinding, lantai, atau rambu stasiun. "Rasanya seperti bermain gim bersama Ninomiya," tulis ulasan tersebut. Ketegangan justru lahir dari aktivitas sederhana: menatap koridor kosong dan bertanya-tanya apakah ada yang berubah.
Dua Film, Satu Trauma yang Sama
Menariknya, Backrooms dan Exit 8 tidak hanya soal ruang aneh. Keduanya secara halus mengeksplorasi trauma, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak berbentuk. Ketika karakter berjalan sendirian di lorong yang sama berulang kali, penonton diajak merasakan keputusasaan yang sama—tanpa perlu dijelaskan lewat dialog panjang.
Memang, kedua film ini tidak sempurna. Backrooms nyaris dua jam dan mulai mengulang pola yang sama di pertengahan. Exit 8 pun kehilangan sedikit daya seramnya setelah beberapa kali putaran. Tapi sebagai tontonan ganda (double feature), keduanya menawarkan pengalaman yang jarang ditemukan di bioskop mainstream: adaptasi gim yang setia pada esensi, bukan sekadar meminjam nama.
Backrooms kini tayang di bioskop, sementara Exit 8 tersedia di Prime Video dan Apple TV (sewa). Cocok ditonton larut malam dengan lampu dimatikan—dan mungkin, jangan lihat ke lorong gelap setelahnya.