JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin terasa di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan Jumat pagi, mata uang Garuda melemah 43 poin menjadi Rp17.979 per dolar AS, memperpanjang tren pelemahan dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.936 per dolar AS.
Harga Minyak Brent Tembus 95 Dolar, Picu Kekhawatiran Baru
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menembus level 95 dolar AS per barel menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Kenaikan ini memicu kekhawatiran investor terhadap risiko twin deficit, yakni defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan yang terjadi bersamaan.
“Lonjakan harga minyak tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit Indonesia, yang pada akhirnya melemahkan sentimen investor terhadap mata uang domestik,” ungkap Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Konflik Yaman-Iran Mengancam Jalur Energi Global
Ketegangan geopolitik meningkat setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi dengan rudal balistik dan drone pada Kamis (23/7). Presiden AS Donald Trump merespons dengan menyatakan Washington akan meminta pertanggungjawaban Teheran jika Houthi terus menyerang kapal komersial.
Menteri Luar Negeri AS Rubio menegaskan bahwa Houthi harus menjauh dari konflik Iran. Situasi semakin panas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania, serta meledakkan ranjau di dekat sebuah kapal tanker di Selat Hormuz.
Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global, kembali menjadi titik rawan. Gangguan di kawasan ini memicu kekhawatiran bahwa kapal tanker harus memutar rute melalui Afrika bagian selatan, yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Sentimen Risk-Off Dorong Permintaan Dolar AS
Peningkatan ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Investor cenderung beralih ke aset safe haven, sehingga permintaan terhadap dolar AS menguat.
Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.025 per dolar AS pada hari ini. “Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset safe haven,” ujarnya.