Laporan Financial Times, yang dirilis pekan ini, mengungkapkan peningkatan drastis harga di pasar gelap semikonduktor China. Server Nvidia A100, yang diluncurkan pada 2020, kini diperdagangkan di kisaran 600.000 yuan ($82.000), naik dari sekitar 200.000 yuan ($22.300) pada akhir tahun lalu. Lonjakan ini mencerminkan betapa ketatnya pasokan chip AI kelas atas di negara tersebut.
Dari Server Lawas hingga GPU Gaming yang Dimodifikasi
Permintaan yang tak terbendung juga mendorong harga produk Nvidia lainnya. Server flagship DGX B300, yang di AS dijual hampir $400.000, kini melambung menjadi lebih dari $1,1 juta di pasar gelap China. Bahkan, GPU gaming yang bisa dimodifikasi untuk menjalankan beban kerja AI ikut terseret. Kartu workstation RTX 6000 Pro, misalnya, naik dari 50.000 yuan menjadi 130.000 yuan sejak awal tahun.
Fenomena ini membalikkan kondisi sebelumnya di mana harga sewa GPU di China sempat lebih murah ketimbang di AS karena pasokan selundupan yang melimpah. Kini, tarif sewa di China setara atau bahkan melampaui harga di Amerika.
Dua Sisi Kebijakan yang Saling Menekan
Washington memperketat penegakan hukum pada akhir tahun lalu. Pada Maret, salah satu pendiri Supermicro didakwa terlibat dalam skema dugaan pengiriman server Nvidia senilai $2,5 miliar ke pembeli China. Otoritas di Taiwan dan Malaysia kemudian membuka penyelidikan penyelundupan mereka sendiri, mengeringkan jalur re-ekspor yang selama ini diandalkan para pedagang.
Di sisi lain, Beijing justru menutup jalur legal. Setelah pemerintahan Trump menyetujui ekspor chip H200 ke China, bea cukai setempat justru diperintahkan memblokir chip-chip tersebut di perbatasan. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, kemudian mengonfirmasi bahwa Nvidia belum menjual satu pun unit H200 ke perusahaan China hingga berbulan-bulan setelahnya.
Jalan Buntu Menuju Huawei
Kedua kebijakan ini mendorong pembeli China ke satu tujuan: Huawei. Perusahaan asal Shenzhen itu memposisikan akselerator Ascend 950PR, yang diluncurkan pada Maret, sebagai chip inferensi pilihan bagi perusahaan dalam negeri. Namun, produksi massalnya masih terbatas, dan tumpukan perangkat lunak CANN milik Huawei masih tertinggal jauh dari CUDA milik Nvidia.
Nvidia sendiri menyebut pembangunan pusat data dari chip selundupan sebagai "jalan buntu". Perusahaan menegaskan tidak memberikan dukungan atau perbaikan untuk produk yang dibatasi. Sementara itu, kenaikan harga memori hanya memperparah situasi. Seorang pedagang mengatakan bahwa beralih dari perangkat keras Nvidia menjadi semakin sulit seiring naiknya biaya komponen, efek domino dari kelangkaan DRAM dan HBM yang kini merambat ke seluruh rantai pasok AI.
Hingga Huawei mampu meningkatkan skala produksi 950PR atau Beijing memberikan lampu hijau untuk impor H200—yang sangat tidak mungkin terjadi—harga inventaris A100 yang tersisa di China diprediksi akan terus meroket.