SULAWESI TENGAH — Seorang pengguna Windows menyerahkan tiga tugas perawatan PC yang ia tunda bertahun-tahun ke agen AI, menghasilkan script backup, health check, dan update otomatis. Backup dijalankan lewat Group Policy saat shutdown, sementara health check dan update berjalan via Task Scheduler setiap kali login. Pendekatan ini cocok untuk pengguna yang rutin menjaga server tapi kerap mengabaikan PC pribadinya.
Persoalan klasik pengguna PC rumahan: server pribadi dirawat ketat, sementara komputer kerja justru dibiarkan menumpuk tugas. Backup dan update termasuk yang paling sering ditunda. Pemilik NAS biasanya disiplin menerapkan aturan 3-2-1 untuk server, tapi pada Windows justru berulang kali berkata "nanti saja".
Pekerjaan skrip kecil sebenarnya bukan hal asing bagi pengguna ini. Dulu ia menulis script sendiri untuk tiap tugas kecil. Setelah memakai agen AI, pekerjaan semacam itu diserahkan ke mesin, dan tugas yang menumpuk bertahun-tahun jadi sasaran berikutnya.
Tiga Tugas yang Dipilih
Dari hasil brainstorming, tiga tugas masuk daftar pendek: backup pagi yang memverifikasi sendiri, health check PC, dan update terjadwal dengan log. Satu ide lain, script "mulai hari", dibatalkan karena tidak setiap hari dimulai dengan aplikasi yang sama.
Penentuan cakupan backup jadi bagian tersulit. Rencana awal menyasar folder Documents, tapi ukurannya membengkak: 739.214 file dengan total sekitar 70GB. Untuk versi pertama, ukuran sebesar itu dianggap berlebihan.
Alternatifnya, satu folder hasil sortir Downloads yang berisi file penting dipilih, yakni 2.418 file (1,81GB) tanpa proyek yang membengkak. Tujuan backup jatuh ke NAS karena perangkat itu selalu menyala dan berada di rumah bersama PC.
Group Policy Jadi Penentu
Task Scheduler jadi opsi pertama, namun punya kelemahan untuk backup: tugas bisa dimatikan dalam hitungan detik saat PC dimatikan. Waktu terbaik menjalankan backup justru tepat sebelum shutdown.
Dua solusi muncul. Pertama, script tambahan yang memicu backup lalu mematikan PC, mudah dipasang tapi merepotkan karena harus mengubah kebiasaan. Kedua, mengubah Group Policy Editor agar menambahkan shutdown script, lebih rumit dipasang tapi sekali jalan.
Opsi Group Policy dipilih. Karena menyentuh sistem, beberapa hal seperti batas waktu dan failover perlu diatur lebih dulu. Setelah itu, dua tugas lain, health check dan update terjadwal, lebih mudah karena tinggal diserahkan ke agen AI.
Untuk health check, agen membuat fungsi Get-Health yang menarik laporan status lewat Get-PSDrive dan Get-PhysicalDisk. Untuk update, agen menawarkan dua opsi: hanya melaporkan aplikasi usang, atau memperbarui aplikasi dalam allowlist dan mendaftar sisanya. Opsi kedua dipilih.
Uji Coba Pertama Gagal
Dry run perdana berakhir dengan pesan "The network name cannot be found". Penyebabnya nama share di NAS keliru. Perintah net view menampilkan tujuh share, dan salah satunya dipakai alih-alih membuat share baru.
Saat memperbaiki nama share, muncul ide lain: backup tidak hanya dijalankan sebelum shutdown, tapi juga saat login bersama dua tugas lain. Tujuannya sebagai jaring pengaman bila shutdown gagal. Agen diminta menambahkan trigger logon plus notifikasi ntfy.
Uji manual mode boot berjalan mulus. Script menyalin 2.379 file dalam 33 detik, memverifikasi salinan, memperbarui 7-Zip dan VLC, lalu mengirim ringkasan ke ntfy. Mode shutdown tidak bisa disimulasikan tanpa mematikan PC, jadi pengujian dilakukan dengan shutdown sungguhan dan pemeriksaan log setelah login kembali.
Hasilnya, backup pada mode shutdown gagal. Kegagalan ini justru membuktikan pentingnya trigger logon sebagai cadangan, karena tugas yang sama tetap berjalan saat PC dinyalakan lagi.
Pelajaran untuk Pengguna Windows
Kisah ini menunjukkan agen AI bisa menangani bagian membosankan dari otomasi PC, tapi keputusan desain tetap di tangan pengguna. Memilih cakupan backup, menentukan pemicu, dan memahami risiko perubahan sistem adalah pekerjaan yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke mesin.
Bagi yang ingin meniru, mulailah dari cakupan kecil dan terukur. Verifikasi salinan, siapkan notifikasi, dan uji jalur gagal sebelum mengandalkan script berjalan otomatis setiap hari.