DisplayPort versi terbaru, yang dikenal dengan bandwidth lebih tinggi dan dukungan refresh rate ekstrem, memang unggul dalam spesifikasi mentah. Kecepatan transfer datanya mampu menangani resolusi 8K pada 120Hz atau 4K pada 240Hz tanpa kompresi — sesuatu yang membuat HDMI 2.1 berjuang keras. Tapi keunggulan teknis ini tidak cukup untuk menggeser posisi HDMI di sektor televisi konsumen.
Masalah Lisensi dan Royalti yang Membuat Biaya Membengkak
Alasan pertama dan paling krusial adalah biaya. Setiap pabrikan yang ingin menyematkan port DisplayPort pada TV-nya harus membayar royalti kepada VESA (Video Electronics Standards Association), organisasi di balik standar tersebut. Biaya ini bersifat perangkat, bukan per produsen chip.
Sebaliknya, HDMI memang juga berbayar, tapi model lisensinya sudah sangat mapan dan terintegrasi dalam ekosistem chipset TV yang sudah ada. Pabrikan TV seperti Samsung, LG, dan Sony sudah membayar lisensi HDMI dalam jumlah besar untuk seluruh lini produk mereka. Menambahkan DisplayPort berarti biaya tambahan yang tidak perlu — dan pada akhirnya akan dibebankan ke konsumen.
“Ini soal volume dan skala ekonomi,” jelas seorang analis industri yang diwawancarai dalam laporan tersebut. “HDMI sudah menjadi standar de facto di TV selama dua dekade. Tidak ada insentif finansial bagi pabrikan untuk menggandakan biaya komponen demi port yang hanya dipakai segelintir pengguna PC.”
Ekosistem yang Sudah Terbentuk dan Kebiasaan Konsumen
Alasan kedua adalah ekosistem. DisplayPort dirancang untuk monitor komputer, bukan TV. Kabel DisplayPort juga lebih pendek secara efektif — sinyal mulai terdegradasi pada panjang lebih dari 3 meter — sementara kabel HDMI bisa mencapai 10-15 meter tanpa masalah berarti. Ini penting untuk pemasangan TV di ruang keluarga atau pemasangan di dinding.
Selain itu, HDMI sudah mendukung fitur-fitur yang sangat diandalkan pengguna TV: Audio Return Channel (ARC/eARC) untuk soundbar, kontrol perangkat universal melalui HDMI-CEC, dan dukungan untuk protokol HDR seperti Dolby Vision dan HDR10+. DisplayPort memang punya alternatif seperti DisplayPort Alt Mode untuk USB-C, tapi tidak terintegrasi semulus HDMI di perangkat konsumen.
Bagi konsumen Indonesia, ini berarti tidak perlu menunggu atau berharap TV berikutnya memiliki port DisplayPort. Semua konsol game terbaru, perangkat streaming, dan dekoder TV kabel menggunakan HDMI. Bahkan PC gaming yang terhubung ke TV pun bisa menggunakan HDMI 2.1 untuk mencapai 4K 120Hz.
Masa Depan: HDMI Akan Terus Mendominasi, DisplayPort Tetap di Monitor
VESA sendiri tampaknya sudah menerima kenyataan ini. Alih-alih memaksa DisplayPort masuk ke TV, organisasi itu fokus mengembangkan standar untuk monitor gaming dan workstation profesional. DisplayPort 2.1, misalnya, menjadi standar di monitor high-end seperti Dell UltraSharp dan Apple Studio Display.
Satu-satunya skenario di mana DisplayPort bisa muncul di TV adalah jika ada perangkat yang membutuhkan bandwidth jauh melebihi kemampuan HDMI 2.1 — misalnya, konsol game generasi berikutnya yang menargetkan 8K 240Hz. Tapi sampai saat itu tiba, HDMI tetap menjadi raja di ruang tamu.
Bagi pengguna yang tetap ingin memanfaatkan DisplayPort di TV, solusinya adalah adapter aktif atau kabel konverter DisplayPort-to-HDMI 2.1. Tapi perlu diingat: adapter ini harganya tidak murah, dan tidak semua TV mendukung fitur-fitur canggih seperti VRR (Variable Refresh Rate) melalui konversi sinyal.