SULAWESI TENGAH — Sebanyak 20% pencari kerja memakai chatbot AI untuk menyusun CV dan menyesuaikan kata kunci lamaran, menurut survei Kaspersky atas 7.200 responden di 18 negara termasuk Indonesia. Pakar keamanan Kaspersky, Lama Saqquor, memperingatkan bahwa chatbot publik pada dasarnya adalah penyerap data yang bisa menelan riwayat karier dan informasi sensitif pelamar.
Survei global Kaspersky yang digelar Maret 2026 menemukan 90% responden memakai perangkat berbasis AI, dan satu dari lima pengguna aktif memanfaatkannya untuk urusan pencarian kerja. Selain menyusun CV, AI dipakai untuk menyesuaikan kata kunci agar lamaran lolos sistem penyaringan otomatis atau Applicant Tracking System (ATS).
Kemudahan itu datang dengan harga. Kaspersky mencatat bahasa CV yang dihasilkan chatbot cenderung kaku, sementara data pribadi dan rahasia perusahaan berisiko bocor begitu diunggah ke platform AI generatif publik.
Chatbot AI Bukan Ruang Aman untuk Data Karier
Lama Saqquor, pakar keamanan dan privasi di Kaspersky, menegaskan pengguna perlu ekstra waspada sebelum menyerahkan riwayat karir ke platform AI generatif publik.
"Alat bantu penulisan berbasis AI sangat berguna untuk menyusun dan memoles konten, namun kita harus ingat bahwa chatbot publik pada dasarnya adalah 'penyerap data'. Memasukkan riwayat karier lengkap, detail kontak, atau pencapaian yang dilindungi oleh NDA ke dalam platform AI eksternal berarti menyerahkan kendali atas bagaimana informasi sensitif tersebut disimpan atau diproses," ujar Lama Saqquor.
Empat Langkah Mengamankan CV Sebelum Masuk Chatbot
Kaspersky membagikan panduan agar pencari kerja tetap memegang kendali atas datanya saat memakai AI.
- Hapus data sensitif sebelum input prompt. Buang nama lengkap, nomor telepon, alamat rumah, surel, nama perusahaan lama, hingga informasi proyek yang terikat perjanjian kerahasiaan (NDA) dari draf CV yang akan dimasukkan ke chatbot.
- Matikan opsi pelatihan AI. Periksa menu pengaturan chatbot dan nonaktifkan izin yang membolehkan AI mempelajari atau menyimpan kueri sebagai materi pelatihan model.
- Fungsikan AI sebagai editor, bukan penulis utama. Susun draf CV sendiri agar poin penting tetap autentik, lalu pakai AI hanya untuk memperbaiki struktur kalimat, tata bahasa, dan pilihan kosakata.
- Cek ulang klaim AI dan gunakan format sederhana. AI kerap memperbesar pengalaman secara berlebihan dan menyulitkan saat wawancara, jadi pastikan data tetap akurat serta simpan CV dalam PDF atau DOCX standar tanpa grafik rumit agar mudah dibaca ATS maupun perekrut manusia.
Lolos ATS Belum Jaminan Lolos Perekrut Manusia
Perusahaan menengah hingga besar memang mengandalkan ATS berbasis AI untuk menyaring ribuan berkas lamaran. Namun tahap akhir tetap diperiksa manual oleh tim HR.
Gaya penulisan yang sepenuhnya dihasilkan AI mudah dikenali karena memakai frasa klise dan terkesan dingin. Kesan itu bisa merugikan pelamar di mata perekrut yang mencari otentisitas calon karyawan.
Modus Penipuan yang Mengintai Pencari Kerja
Kaspersky juga mengimbau pencari kerja mewaspadai kejahatan siber yang menumpang momen perburuan kerja. Tautan panggilan wawancara, video call, atau tes daring yang dikirim lewat email dan aplikasi pesan singkat perlu diperiksa ulang karena kerap dipakai mencuri data atau menyebarkan malware.
Hindari memublikasikan dokumen CV lengkap di media sosial. Tampilkan ringkasan profil saja dan serahkan dokumen utuh hanya kepada perekrut resmi. Verifikasi profil perusahaan sebelum menyerahkan berkas, dan amankan akun portal pencari kerja dengan kata sandi unik yang dikombinasikan dengan password manager.
Bagi pelaku bisnis digital dan startup yang membuka lowongan, temuan Kaspersky ini relevan untuk menyusun proses rekrutmen yang lebih transparan. Kandidat perlu diberi kepastian soal kanal resmi pelamaran agar tidak mudah terjebak tautan phishing yang mengatasnamakan perusahaan.