SULAWESI TENGAH — Pertamina Foundation bersama UGM dan DLHK DIY memanen raya nangka muda di kawasan hutan pangan seluas 87 hektare di Karangmojo, Gunungkidul, Sabtu (3/10). Program Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini menargetkan pasokan gori untuk industri gudeg Yogyakarta yang selama ini defisit sekitar 7 ton per hari.
Paragraf pembuka: Kawasan di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, itu dikelola bersama sekitar 400 petani lokal. Panen raya disertai penanaman lanjutan pohon nangka, menandai tahap baru pengembangan hutan pangan berbasis lingkungan di lahan karst.
Defisit Gori Yogyakarta Capai 7 Ton per Hari
Kebutuhan nangka muda atau gori untuk industri gudeg Yogyakarta diperkirakan mencapai 9 ton per hari. Produksi lokal DIY baru menyuplai sekitar 2 ton per hari, sehingga masih ada kekurangan sekitar 7 ton yang harus didatangkan dari luar daerah.
Komisaris PT Pertamina (Persero) Nanik S Deyang menyebut lahan Gunungkidul sebagai jawaban atas ketergantungan bahan baku itu. "Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan," ujarnya dalam keterangan, Senin (5/10/2026).
400 Petani dan Sistem Tumpangsari di Lahan Karst
Pengembangan kawasan dilakukan lewat sistem tumpangsari dan dukungan pengairan berbasis energi bersih. Pendekatan itu dipilih untuk menghadapi karakter lahan karst Gunungkidul yang cenderung kering pada musim kemarau.
Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengatakan kelompoknya telah melakukan sedikitnya tiga kali panen. Ia berharap pendampingan peningkatan kapasitas terus berjalan. Menurut dia, hasil panen berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan sehingga memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Dari Hutan Pangan ke Ekonomi Desa
Pertamina menilai optimalisasi kawasan hutan bisa menjadi salah satu sumber pasokan bahan baku dari dalam daerah. Sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani sekitar.
Program ini melibatkan Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY. Kolaborasi tersebut diarahkan menjadi model pengelolaan hutan pangan yang bisa direplikasi di wilayah lain.
Penutup: Bagi industri gudeg Yogyakarta, pasokan gori dari Gunungkidul berpotensi memangkas biaya logistik dari luar daerah. Keberhasilan tiga kali panen menjadi ujian awal apakah model hutan pangan ini bisa diperluas ke kawasan karst lain di DIY.