SIGI — Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah menggandeng Hannah Asa Indonesia menggelar penguatan kapasitas bagi 180 peserta dalam Program Berani Menjadi Petani Milenial. Kegiatan di Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, itu menempatkan literasi keuangan sebagai inti materi, bukan sekadar pengenalan teknologi pertanian.
Fokus pelatihan adalah modernisasi pertanian yang menyentuh tiga sisi sekaligus: peningkatan kapasitas sumber daya manusia, tata kelola usaha yang profesional, dan pemanfaatan teknologi. Peserta mendapat penekanan bahwa keberhasilan usaha tani tidak lagi diukur dari banyaknya hasil panen.
Mengapa Petani Milenial Perlu Melek Manajemen Keuangan
Para pemateri menilai kemampuan mengelola biaya produksi, menentukan harga jual, mencatat transaksi secara tertib, dan menjaga modal usaha menjadi faktor penentu. Tanpa manajemen keuangan yang matang, kenaikan produksi pangan belum tentu berbanding lurus dengan keuntungan yang diterima petani.
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Moh. Saleh N.L., S.Pi., M.Si., hadir sebagai pembicara utama. Materi penguatan juga disampaikan Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tengah Dr. Ruslan Boy, S.P., M.Si., Dr. Herawati, S.P., M.Si., serta Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah.
Moh. Saleh menyatakan bahwa pengembangan petani milenial membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Menurutnya, kebijakan pemerintah harus selaras dengan kesiapan petani di tingkat usaha, mencakup dukungan produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan demi menjamin keberlanjutan usaha secara bertahap.
Alsintan Modern Harus Dibarengi Kesiapan SDM
Ruslan Boy menyoroti pentingnya mengintegrasikan penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan kesiapan sumber daya manusia, kelembagaan yang kuat, serta model bisnis yang matang. Teknologi tanpa kesiapan pengelola, menurutnya, tidak cukup mendorong regenerasi pertanian.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menempatkan pengembangan petani milenial dalam perspektif lebih luas. Regenerasi petani di Sulawesi Tengah tidak sekadar bertumpu pada alsintan terbaru, melainkan juga pada penguatan literasi keuangan, manajemen risiko usaha, dan ketajaman mengambil keputusan ekonomi.
Lewat pendekatan itu, program regenerasi pertanian diarahkan tidak hanya menambah jumlah pelaku di lapangan. Petani muda disiapkan menguasai keterampilan teknis produksi sekaligus manajemen usaha, pemasaran, dan pengelolaan keuangan agar aktivitas pertanian bertransformasi menjadi bisnis produktif bernilai tambah tinggi.
Pelatihan di Desa Maku menjadi salah satu titik intervensi awal Program Berani Menjadi Petani Milenial di Kabupaten Sigi. Bappeda Sulawesi Tengah belum memerinci jadwal lanjutan pelatihan serupa di wilayah lain.