SULAWESI TENGAH — Polandia selaku tuan rumah Piala Dunia U-20 Wanita 2025 mengaku belum menerima pemberitahuan resmi soal mundurnya tim-tim Eropa. Turnamen dijadwalkan berlangsung 5-27 September, dengan enam negara UEFA—termasuk Inggris, Italia, Spanyol, Portugal, dan Prancis—terdaftar sebagai peserta.
Asosiasi Sepak Bola Polandia (PZPN) menyatakan kepada BBC Sport pada Selasa (15/4) bahwa mereka percaya situasi ini akan segera teratasi. "Prioritas kami tetap memastikan kondisi terbaik untuk kompetisi dan semua tim peserta. Bagi banyak pemain muda, turnamen ini merupakan tonggak penting dalam karier olahraga mereka," demikian pernyataan PZPN.
Krisis Kepemimpinan FIFA Jadi Akar Masalah
Ancaman boikot berakar dari rencana Presiden FIFA Gianni Infantino yang ingin menjual saham Piala Dunia dan kompetisi lainnya kepada investor swasta melalui skema Fifa Forward Enterprise (FFE). UEFA bersama 55 anggota federasinya menolak keras usulan tersebut.
Nandy menyebut Infantino sebaiknya mundur. "Kami mendukung FA dalam menyatakan bahwa sepak bola milik para penggemar. Cukup sudah, saatnya ada perubahan di FIFA," ujarnya. Namun ia menegaskan tidak mendukung boikot terhadap Piala Dunia U-20 Wanita.
"Saya pada umumnya tidak setuju boikot olahraga karena itu memecah orang dan secara tidak adil menghukum atlet yang tidak bertanggung jawab atas alasan boikot terjadi," kata Nandy.
Inggris Belum Pastikan Keikutsertaan, Tim Tetap Berlatih
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) belum mengonfirmasi apakah akan mengirim tim ke Polandia. Namun persiapan skuad Young Lionesses asuhan Lydia Bedford terus berjalan normal.
Prancis dan Portugal justru sudah menyatakan komitmen tampil. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) pekan lalu mengonfirmasi niat mereka berlaga, sementara Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) mengatakan tim U-20 mereka tetap menjalani program yang direncanakan, termasuk laga uji coba melawan Inggris pekan ini.
"Yang saya ingin lihat adalah sepak bola bersatu, menyelesaikan masalah ini, perubahan kepemimpinan, dan pesan yang jelas bahwa sepak bola milik penggemar," tegas Nandy. "Jangan sampai wanita dan anak perempuan dihukum ketika sepak bola wanita sedang berkembang pesat. Lionesses memimpin dunia dalam hal itu."
Boikot terhadap turnamen usia muda berpotensi merusak perkembangan pemain yang justru membutuhkan panggung internasional untuk menunjukkan bakat mereka. Polandia sebagai tuan rumah berharap semua pihak menemukan solusi sebelum turnamen dimulai.