SULAWESI TENGAH — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,6% dari posisi akhir pekan lalu di Rp17.703 per dolar AS. Tekanan jual terhadap mata uang Garuda terjadi sejak sesi pembukaan, seiring sentimen negatif dari kenaikan harga minyak mentah yang menembus level US$92 per barel.
Minyak Mahal, Beban Impor Membengkak
Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Indonesia, yang masih menjadi importir minyak bersih, otomatis menanggung beban impor lebih besar. Kenaikan ini mengerek kebutuhan dolar untuk pembayaran impor energi, sementara pasokan valas dari ekspor komoditas lain belum mampu mengimbangi.
Analis pasar uang dari Trimegah Sekuritas, Wisnu Prambudi, mengatakan tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak pekan lalu. "Pasar khawatir kenaikan harga minyak akan memperlebar defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia," ujarnya.
Intervensi BI dan Respons Pasar Obligasi
Bank Indonesia (BI) dikabarkan masuk pasar melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini ditempuh untuk menahan laju pelemahan yang terlalu cepat dan menjaga imbal hasil obligasi tetap stabil.
Namun, tekanan eksternal masih kuat. Indeks dolar AS (DXY) terus menguat ke level 106,8, didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed lebih lama. Kondisi ini membuat hampir seluruh mata uang Asia tertekan, dengan rupiah menjadi salah satu yang paling rentan.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Pelaku pasar kini menanti data inflasi Indonesia yang akan dirilis akhir pekan ini. Jika inflasi inti tetap terkendali, BI dinilai memiliki ruang untuk tetap agresif dalam menstabilkan kurs tanpa harus menaikkan suku bunga acuan secara drastis.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak menjadi variabel kunci. Analis memperkirakan jika harga minyak bertahan di atas US$90 per barel, rupiah berpotensi menguji level psikologis Rp18.000 dalam waktu dekat. "Level support selanjutnya ada di Rp17.850, dan jika tembus, Rp18.000 akan jadi target berikutnya," tambah Wisnu.
Investasi mengandung risiko. Investor disarankan mencermati pergerakan harga komoditas dan kebijakan moneter global sebelum mengambil posisi di pasar valas.