Pencarian

PLN Targetkan Serap 10 Juta Ton Biomassa pada 2030, Nilai Ekonomi Capai Rp 4 Triliun

Sabtu, 20 Juni 2026 • 21:28:01 WIB
PLN Targetkan Serap 10 Juta Ton Biomassa pada 2030, Nilai Ekonomi Capai Rp 4 Triliun
PLN EPI menargetkan serapan biomassa nasional mencapai 10 juta ton pada 2030 untuk mendukung energi terbarukan.

SULAWESI TENGAH — PLN EPI menargetkan peningkatan serapan biomassa secara bertahap. Pada 2026, perusahaan menargetkan 3,65 juta ton, naik dari realisasi 2025 yang baru mencapai 2,35 juta ton. Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyebut potensi dalam negeri masih sangat besar, namun pemanfaatannya belum optimal.

"Kami menargetkan penyerapan biomassa 10 juta ton pada 2030, meningkat dari target 3,65 juta ton pada 2026," kata Hokkop, Sabtu (20/6/2026).

Potensi Melimpah, Serapan Domestik Masih Rendah

Indonesia memiliki potensi biomassa dari limbah agro hingga 80 juta ton per tahun. Namun, dari jumlah itu, baru sekitar 20 juta ton yang termanfaatkan. Sebagian besar justru terserap untuk kebutuhan ekspor dan industri.

Data menunjukkan, pada 2025 ekspor biomassa mencapai 8,5 juta ton, sementara serapan PLN hanya 2,35 juta ton untuk kebutuhan pembangkit listrik. "Hal ini menunjukkan potensi bioenergi nasional masih sangat besar untuk dioptimalkan bagi kepentingan domestik," ujar Hokkop.

Cofiring Jadi Andalan, CBG Mulai Diuji Coba

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Johni Jonathan Numberi menilai biomassa akan menjadi pilar penting dalam bauran energi menuju net zero emissions (NZE) 2060. Ia merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 yang menempatkan energi baru terbarukan sebagai tulang punggung sistem energi masa depan.

"PLTU kita rata-rata memiliki umur ekonomis operasi yang panjang. Karena itu, cofiring biomassa menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional," kata Johni.

Selain biomassa padat, PLN EPI mulai mempercepat pengembangan compressed biomethane gas (CBG) yang berasal dari limbah cair kelapa sawit atau POME. Indonesia memiliki hampir 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan sekitar 130 juta metrik ton POME setiap tahun.

Uji coba pemanfaatan CBG telah dilakukan di salah satu pembangkit milik PT Nusantara Power dan menunjukkan hasil menjanjikan. "Kami berharap kalau biomassa bisa menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi PLTU, maka CBG juga bisa menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi di PLTG, PLTMG, maupun PLTGU," jelas Hokkop.

PLN EPI juga mulai mengembangkan biohidrogen sebagai strategi jangka panjang. Menurut Hokkop, permintaan global terhadap energi bersih meningkat, dan Indonesia memiliki potensi besar dari biomassa serta limbah organik.

Dampak Ekonomi: Petani Terlibat, Lapangan Kerja Baru Tercipta

Pengembangan bioenergi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat. Berdasarkan perhitungan PLN EPI, setiap pemanfaatan 100 ribu ton biomassa per tahun dapat melibatkan sekitar 500 petani dan 18 kelompok tani, serta meningkatkan pendapatan masyarakat hingga Rp 450 ribu per bulan.

Saat ini, PLN EPI telah mengembangkan fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis melalui kolaborasi dengan petani, koperasi, BUMDes, UMKM, BUMD, dan mitra swasta. Untuk memenuhi target tahun lalu, perusahaan bekerja sama dengan sekitar 150 mitra di berbagai daerah.

Secara keseluruhan, PLN EPI memperkirakan pengembangan bioenergi hingga 2030 dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp 5,1 triliun, tambahan penerimaan negara Rp 670 miliar, pemanfaatan limbah hingga 20 juta ton, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.

Tantangan Harga dan Usulan Indonesian Bioenergy Index

Meski prospeknya besar, pengembangan bioenergi masih menghadapi tantangan, terutama kepastian harga dan penguatan ekosistem industri. PLN EPI mengusulkan pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional bioenergi.

"Kami berharap ke depan ada IBI, sehingga pasar menjadi lebih stabil, investor lebih percaya diri, dan industri bioenergi bisa berkembang lebih cepat," kata Hokkop.

Langkah ini dinilai krusial agar target 10 juta ton biomassa pada 2030 tidak sekadar menjadi angka di atas kertas, tetapi benar-benar terintegrasi dalam sistem ketenagalistrikan nasional.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks