SULAWESI TENGAH — Kolonel James Hayes dari Pangkalan AU Edwards menyatakan penyelidikan resmi tengah berlangsung, namun hasil detail diperkirakan baru bisa dipublikasikan enam bulan ke depan. "Para pejabat militer akan mulai menyelidiki apa yang terjadi, tetapi detail pastinya tidak akan tersedia untuk publik selama sekitar enam bulan," ujar Hayes dalam pernyataan resmi yang dikutip CNN.
Hayes menggambarkan insiden ini sebagai peristiwa tragis. "Ini tragis dan tidak mungkin selamat," katanya, menegaskan bahwa seluruh awak yang berada di dalam pesawat dipastikan tewas.
Korban Terdiri dari Militer, Sipil, dan Kontraktor
Kepala Sersan Utama Joshua T. Skarloken mengungkapkan bahwa komposisi awak pesawat tidak sepenuhnya personel militer. "Awak pesawat terdiri dari campuran pejabat militer, warga sipil pemerintah, dan kontraktor pemerintah," kata Skarloken.
Boeing, produsen pesawat B-52, mengonfirmasi dua karyawannya ikut dalam penerbangan nahas tersebut. "Kami telah menghubungi keluarga mereka dan menawarkan dukungan," demikian pernyataan resmi Boeing. Proses pemberitahuan kepada keluarga seluruh korban masih berlangsung.
Landasan Pacu Hangus, Operasi Pangkalan Dihentikan Sementara
Kecelakaan terjadi pada pukul 11.20 waktu setempat. Pesawat meninggalkan bekas hangus besar di landasan pacu berpasir pangkalan tersebut. Pihak pangkalan menghentikan seluruh operasi penerbangan hingga Selasa (16/6) sebelum akhirnya dibuka kembali.
Pesawat B-52 Stratofortress yang jatuh merupakan varian bomber strategis andalan Angkatan Udara AS. Misi kali ini merupakan uji coba untuk mendukung program modernisasi sistem radar pesawat, bagian dari upaya memperpanjang masa pakai armada B-52 yang telah beroperasi sejak era Perang Dingin.
Belasungkawa dari Pejabat Tinggi AS
Sekretaris Angkatan Udara Troy E. Meink dan Ketua DPR AS Mike Johnson sama-sama menyampaikan duka cita di media sosial. Keduanya menyebut kecelakaan ini sebagai kehilangan besar bagi keluarga korban dan institusi militer.
Kecelakaan B-52 ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah operasional pangkalan Edwards dalam satu dekade terakhir. Militer AS masih mengumpulkan puing-puing dan data penerbangan untuk mengungkap penyebab pasti jatuhnya pesawat pengebom berusia puluhan tahun tersebut.