PALU — Hilirisasi perikanan di Sulawesi Tengah tak lagi sekadar wacana. Pemerintah daerah setempat menjadikan sektor ini sebagai motor penggerak ekonomi baru, dengan target jangka panjang mengubah struktur perekonomian yang selama ini bergantung pada bahan mentah.
Manfaat dari hilirisasi disebut tidak berhenti pada peningkatan pendapatan pelaku usaha perikanan. Aktivitas pengolahan ikan di dalam negeri, menurut data yang dihimpun, mendorong masuknya investasi, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat rantai pasok lokal.
Efek Berganda dari Pengolahan Ikan di Dalam Negeri
Selama ini, Sulawesi Tengah dikenal sebagai salah satu pemasok ikan tuna, cakalang, dan rumput laut terbesar di Indonesia timur. Namun, sebagian besar hasil tangkapan masih dikirim dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah atau luar negeri.
Dengan hilirisasi, setiap ton ikan yang diolah di pabrik lokal bisa menghasilkan nilai tambah hingga tiga kali lipat dibandingkan dijutal mentah. Lebih dari itu, pabrik pengolahan menyerap tenaga kerja tetap, mulai dari buruh sortir, tenaga pengalengan, hingga staf logistik.
Investasi Baru Mengalir ke Kawasan Pesisir
Sejumlah investor mulai melirik kawasan pesisir di Sulawesi Tengah untuk membangun pabrik pengolahan. Beberapa daerah seperti Kabupaten Banggai, Morowali, dan Parigi Moutong masuk dalam peta investasi prioritas sektor perikanan.
Pemerintah provinsi menyiapkan insentif fiskal dan kemudahan perizinan untuk menarik modal. Langkah ini sejalan dengan program nasional yang mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam di daerah.
Apa yang Berubah bagi Nelayan Kecil?
Nelayan tradisional di sejumlah titik, seperti di Teluk Tomini dan perairan Tolitoli, mulai merasakan dampak awal. Harga ikan di tingkat nelayan dilaporkan lebih stabil karena adanya jaminan serap dari pabrik pengolahan.
Sebelumnya, nelayan kerap menjual ikan dengan harga murah ke tengkulak saat pasokan melimpah. Kini, sebagian dari mereka sudah memiliki kontrak pasokan langsung dengan perusahaan pengolahan, meskipun skalanya masih terbatas.
Fakta Singkat Hilirisasi Perikanan Sulteng
- Nilai tambah produk olahan ikan diperkirakan meningkat 200-300 persen dibanding bahan mentah.
- Tiga kabupaten prioritas investasi: Banggai, Morowali, dan Parigi Moutong.
- Target penyerapan tenaga kerja baru mencapai ribuan orang dalam lima tahun ke depan.
Tantangan: Infrastruktur dan Kualitas SDM
Meski potensinya besar, hilirisasi perikanan di Sulawesi Tengah masih menghadapi sejumlah kendala. Infrastruktur jalan menuju pelabuhan dan kawasan industri di pesisir timur belum seluruhnya memadai.
Selain itu, ketersediaan tenaga kerja terampil di bidang pengolahan ikan masih minim. Pemerintah daerah berencana menggandeng balai latihan kerja dan politeknik perikanan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan industri.
Tanpa dua hal itu, efek berganda dari hilirisasi bisa berjalan lambat dan hanya dinikmati segelintir pihak.