JAKARTA — Tekanan jual masih mendominasi perdagangan saham dan valuta asing di Indonesia pada awal pekan ini. IHSG tercatat merosot 138,558 poin (2,06 persen) ke posisi 6.584,762 pada pembukaan perdagangan Senin (18/5). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan level penutupan akhir pekan lalu.
Pada sesi preopening, indeks sudah menunjukkan sinyal negatif dengan turun 94,344 poin (1,40 persen) ke level 6.628,976. Pelemahan ini mengindikasikan bahwa tekanan jual telah dimulai sejak sebelum bel pembukaan.
Pelemahan Rupiah dan Bursa Asia Jadi Pemicu Sentimen
Di pasar valuta asing, rupiah tidak mampu bertahan dari tekanan dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, kurs rupiah berada di level Rp 17.630 per dolar AS, melemah 33,00 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar secara global.
Kondisi serupa juga melanda mayoritas bursa saham utama Asia. Indeks Nikkei 225 di Jepang menjadi yang terpuruk dengan koreksi 625,902 poin (1,02 persen) ke level 60.783,398. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong turun 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230, dan indeks Straits Times di Singapura melemah 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990.
Bursa China Menjadi Satu-satunya Zona Hijau
Di tengah lautan merah bursa Asia, indeks SSE Composite di China justru mencatatkan penguatan tipis. Indeks acuan di Shanghai tersebut naik 2,399 poin (0,06 persen) ke level 4.137,790. Pergerakan positif ini menjadi anomali di tengah sentimen risk-off yang melanda kawasan.
Tekanan terhadap IHSG dan rupiah ini terjadi di tengah kekhawatiran investor global terhadap prospek suku bunga acuan AS dan ketidakpastian ekonomi global. Pasar masih mencerna data inflasi dan sinyal kebijakan moneter dari bank sentral AS yang cenderung hawkish.
Analis memperkirakan volatilitas masih akan berlanjut dalam beberapa sesi ke depan. Investor disarankan untuk mencermati pergerakan nilai tukar dan data ekonomi domestik yang bisa menjadi katalis pembalikan arah.