SULAWESI TENGAH — PT Pertamina EP Asset 4 (Zona 11) mengaktifkan kembali Sumur SKW-17ST di Lapangan Sukowati, Bojonegoro, Jawa Timur, dengan laju alir awal 810 barel minyak per hari (BOPD) atau 1.025 persen dari target 79 BOPD. Sumur yang shut-in sejak November 2022 akibat water cut 100 persen itu kembali berproduksi setelah intervensi sumur selesai 30 September 2026. Tambahan produksi ini menjadi salah satu penopang upaya pemerintah menjaga ketahanan energi nasional di tengah penurunan alamiah lapangan migas.
Paragraf pembuka: Keberhasilan reaktivasi Sumur SKW-17ST diperoleh setelah Pertamina EP menjalankan serangkaian pekerjaan well intervention. Sumur yang berada di Pad B, Desa Ngampel, Bojonegoro, itu sebelumnya dinilai tidak ekonomis untuk diproduksikan karena kandungan airnya mencapai 100 persen. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menilai langkah tersebut sebagai bagian penting dari optimalisasi lapangan eksisting.
Rangkaian Pekerjaan dan Hasilnya
Intervensi yang dilakukan mencakup penutupan interval produksi eksisting, perbaikan bonding cement, perforasi interval produksi baru pada Lapisan Tuban Reef, stimulasi matrix acidizing, hingga pemasangan electric submersible pump (ESP). Lapisan Tuban Reef merupakan lapisan batu gamping atau limestone.
Selain minyak, sumur tersebut menghasilkan laju alir awal gas sebesar 0,425 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dari interval 7.739–7.749 kaki measured depth (ftMD). Setelah intervensi, water cut Sumur SKW-17ST turun menjadi 66,38 persen.
Pekerjaan operasional memakai Rig NYT#24 berkapasitas 550 HP dan rampung dalam 31 hari operasi. Sumur dinyatakan selesai pada 30 September 2026 dan langsung dapat diproduksikan atau put on production (PoP).
Efisiensi Biaya dan Keselamatan Kerja
Dari sisi biaya, pekerjaan itu mencatatkan efisiensi. Berdasarkan estimasi biaya lapangan, dana yang dikeluarkan sekitar US$790.650, atau 86 persen dari rencana anggaran US$916.946.
“Yang juga penting adalah pekerjaan dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, efisiensi waktu dan biaya, serta memberikan tambahan produksi yang nyata,” kata Djoko.
Djoko menambahkan, sumur-sumur yang sebelumnya shut-in perlu terus diupayakan aktif kembali dengan teknologi dan metode yang tepat. Menurutnya, langkah itu bagian dari upaya meningkatkan produksi dari lapangan eksisting.
Mengapa Reaktivasi Sumur Shut-in Penting
Optimalisasi sumur eksisting, termasuk reaktivasi sumur shut-in, menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga produksi migas nasional. Pasalnya, lapangan-lapangan migas di Indonesia menghadapi tantangan penurunan alamiah produksi seiring bertambahnya usia sumur.
“Optimalisasi sumur eksisting, termasuk reaktivasi sumur shut-in, harus terus dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produksi migas nasional,” ujar Djoko.
Keberhasilan Sumur SKW-17ST menunjukkan intervensi terhadap sumur yang sebelumnya tidak ekonomis masih berpeluang memberi tambahan produksi, asalkan dilakukan dengan evaluasi teknis dan metode yang tepat.
Penutup: Tambahan 810 BOPD dari Sumur SKW-17ST diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produksi minyak Lapangan Sukowati sekaligus memperkuat posisi Pertamina EP dalam menjaga produksi hulu migas nasional.