SULAWESI TENGAH — Keputusan ini diumumkan langsung oleh Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, di sela-sela gelaran GIIAS, Rabu (5/8/2026). Pihaknya menegaskan bahwa absennya Denza bukan karena kendala teknis atau persiapan produk, melainkan murni arah strategi perusahaan.
"Enggak, jadi sepenuhnya ini adalah strategi dari kami," ujar Luther saat ditemui awak media.
Membangun Citra Premium Lewat Kegiatan Eksklusif
Alih-alih memadati area pameran yang ramai, Denza akan lebih banyak hadir di acara-acara yang pesertanya sesuai dengan profil konsumen yang dibidik. Luther menjelaskan bahwa pendekatan ini diambil agar brand positioning Denza bisa tertanam lebih kuat di benak calon pembeli.
"Jadi, ke depan kami ingin melihat bagaimana Denza ini langsung mendekatkan kepada customer-nya untuk mengeset brand positioning-nya lebih akurat lagi," katanya.
Strategi ini terlihat dari rentetan kegiatan yang sudah dan akan diikuti Denza. Beberapa di antaranya adalah expo premium, acara musik untuk kalangan menengah ke atas, hingga fashion show.
Dari Golf Competition hingga Pameran Seni
Luther merinci bahwa Denza tidak hanya berhenti pada satu jenis acara. Merek ini juga mulai terlibat dalam turnamen golf dan pameran seni untuk menjangkau komunitas yang lebih luas namun tetap spesifik.
"Jadi, kami mulai lebih attach dengan kegiatan-kegiatan seperti kegiatan expo-expo premium, join dalam kegiatan-kegiatan musikalitas middle-high, lalu kami terlibat dalam aktivitas fashion show premium, golf competition, bahkan terakhir kita ikut anjang kegiatan art yang premium," ucap Luther.
Dengan cara ini, interaksi yang terjalin antara calon konsumen dan produk diharapkan lebih intim. Pengunjung punya waktu lebih banyak untuk melihat detail kendaraan tanpa terburu-buru, sesuatu yang sulit dilakukan di tengah hiruk-pikuk pameran berskala besar.
Langkah BYD ini menjadi catatan menarik bagi industri otomotif nasional. Biasanya, pameran tahunan seperti GIIAS menjadi ajang wajib bagi semua merek untuk memamerkan produk terbarunya. Keputusan Denza untuk berbeda justru menunjukkan bahwa strategi pemasaran premium tidak selalu harus mengikuti arus utama.