Pencarian

70 Persen Peserta Edukasi Keuangan Alami Tekanan Finansial, ASN Sulteng Diminta Perkuat Dana Darurat

Jumat, 25 September 2026 • 23:30:32 WIB
70 Persen Peserta Edukasi Keuangan Alami Tekanan Finansial, ASN Sulteng Diminta Perkuat Dana Darurat
Narasumber menyampaikan materi literasi keuangan dalam rapat koordinasi di Palu, Sulawesi Tengah.

Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan pentingnya ketahanan finansial bagi aparatur sipil negara di Sulawesi Tengah melalui pengelolaan pendapatan yang bijak dan perlindungan keuangan. Riset lembaga literasi keuangan itu menemukan sekitar 70 persen peserta edukasi mengalami tekanan keuangan. Penguatan dana darurat dinilai mendesak karena wilayah Sulteng berada di sekitar sesar Patahan Palu-Koro.

PALU — Hasil riset Hannah Asa Indonesia menunjukkan sekitar 70 persen peserta edukasi literasi keuangan yang mereka berikan mengalami financial stress atau tekanan keuangan. Temuan itu disampaikan Mardiyah saat menjadi narasumber rapat koordinasi dan perencanaan keuangan berbasis syariah di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis.

Mardiyah menyebut kesehatan keuangan tidak ditentukan semata dari besar kecilnya pendapatan. Kemampuan mengelola sumber daya yang dimiliki justru jadi penentu utama.

"Seberapa banyak pun uang yang kita punya, tapi kalau kita tidak mampu mengelolanya, akan sama saja," kata Mardiyah.

Mengapa Dana Darurat Jadi Prioritas di Sulteng

Kebutuhan dana darurat di Sulawesi Tengah mendapat perhatian khusus dalam kegiatan tersebut. Alasannya, wilayah ini berada di sekitar sesar Patahan Palu-Koro sehingga warga perlu punya perlindungan keuangan menghadapi risiko bencana.

Pengelolaan keuangan, menurut Mardiyah, perlu dimulai sejak dini. Caranya lewat pengaturan arus kas, pembangunan ketahanan finansial, perlindungan, dan perencanaan masa depan.

Dalam kegiatan itu, peserta diajak mengenali pendapatan, mengidentifikasi pengeluaran wajib, membandingkan pendapatan dengan pengeluaran, lalu menentukan bagian yang bisa disisihkan untuk tabungan.

Enam Nilai Pengelolaan Keuangan Syariah

Tata kelola keuangan yang baik dan sesuai prinsip syariah, kata Mardiyah, juga bisa diterapkan di tingkat institusi. Siklusnya mencakup perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pencatatan, pengendalian, pelaporan, dan evaluasi.

Prinsip yang perlu diperhatikan meliputi transparansi, akuntabilitas, pengendalian, kehati-hatian, dan efisiensi. Dalam perspektif syariah, pengelolaan keuangan tidak cukup memastikan transaksi dilakukan secara administratif.

Ada enam nilai yang menjadi landasan pengelolaan keuangan syariah: amanah, keadilan, kemaslahatan, transparansi, akuntabilitas, dan kehati-hatian.

"Amanah ini artinya uang yang dikelola itu bukan hanya dimiliki, tapi alurnya itu ada, pertama dananya diterima, direncanakan, kemudian digunakan, dicatat, dikendalikan, dilaporkan, kemudian dipertanggungjawabkan," ujar Mardiyah.

Bappeda Sulteng Gandeng Hannah Asa Indonesia

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah, Arfan, menilai literasi dan edukasi berbasis syariah penting untuk membangun tata kelola keuangan yang sehat dan berkelanjutan bagi ASN.

"Literasi dan edukasi keuangan berbasis syariah sangat dibutuhkan seiring dengan perkembangan kehidupan finansial yang membutuhkan ketelitian dan kecerdasan dalam pengelolaannya," ujarnya.

Bappeda Sulawesi Tengah menggandeng Hannah Asa Indonesia untuk kerja sama peningkatan literasi keuangan berbasis syariah bagi para ASN. Kerja sama itu juga mencakup edukasi pengelolaan keuangan secara lebih luas.

Follow paluonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sulteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks