SULAWESI TENGAH — Kemenangan dramatis Inggris atas Norwegia di perempat final Piala Dunia, Selasa (15/4) waktu Miami, memicu perbedaan pandangan antara pelatih kepala Thomas Tuchel dan Jude Bellingham. Alih-alih merayakan kelolosan lewat babak perpanjangan waktu, konferensi pers usai laga justru diwarnai pernyataan yang saling bertolak belakang dari dua tokoh kunci timnas.
Tuchel Buka-bukaan soal Kelemahan Tim
Pelatih asal Jerman itu tidak menahan diri saat diwawancara ITV. "Kami mempersulit diri sendiri hari ini. Komitmen memang ada, tapi kami bermain terlalu lambat, terlalu banyak kesalahan teknis, dan ceroboh," ujar Tuchel. Kritik ini dilontarkan meski Bellingham mencetak dua gol yang membawa Inggris menang.
Bellingham: Menang Jelek Itu Sah-sah Saja
Saat mengetahui komentar pelatihnya, gelandang Real Madrid itu langsung merespons. "Kamu tidak selalu menang dengan menyelesaikan seribu operan. Kadang kamu harus bertarung dan menang dengan cara yang tidak cantik. Itulah yang kami lakukan malam ini," tegas Bellingham. Pernyataan ini menunjukkan perbedaan filosofi antara pemain dan pelatih soal cara meraih hasil.
Tuchel Cepat Meredam Spekulasi Keretakan
Menyusul pemberitaan yang meluas, Tuchel bergerak cepat meredakan ketegangan. Dilansir dari The Athletic, juru taktik berusia 51 tahun itu membantah adanya keretakan hubungan. "Tidak ada retakan. Kami justru lebih dekat dari sebelumnya," klaim Tuchel menjelang laga semifinal.
Bukan Kali Pertama Tuchel 'Kasar' dengan Bellingham
Insiden ini bukan yang pertama. Akhir tahun lalu, Tuchel secara terbuka menyoroti temperamen Bellingham di lapangan. "Saya melihat ini dengan orang tua saya, dengan ibu saya, bahwa kadang dia tidak bisa melihat pria yang baik, berpendidikan, dan berperilaku baik yang saya lihat," kata Tuchel kala itu. Ia kemudian meminta maaf atas pilihan katanya.
Gaya komunikasi langsung Tuchel sudah menjadi ciri khas sepanjang karier kepelatihannya. Ia dikenal sebagai sosok yang menuntut, blak-blakan, dan kerap berselisih dengan pemain bintang serta petinggi klub di Chelsea, Paris Saint-Germain, dan Bayern Munich.
Dengan tiket final Piala Dunia di depan mata, publik Inggris berharap perang kata-kata ini hanya cerminan dari api kompetitif kedua tokoh tersebut. Bukan sebuah retakan yang bisa menggagalkan mimpi juara di turnamen ini.