PARIGI MOUTONG — Poros Tambu-Kasimbar berada di titik paling sempit Pulau Sulawesi, dengan lebar bentang darat hanya sekitar 30 kilometer. Lokasi ini disebut-sebut sebagai titik paling ideal untuk membangun jalur konektor yang menghubungkan sisi barat dan timur provinsi. Selama ini, distribusi barang dari Kota Palu menuju wilayah timur seperti Poso, Morowali, hingga Banggai harus memutar melalui jalan darat yang memakan waktu dan biaya tinggi.
Mengapa Poros Tambu-Kasimbar Jadi Solusi Logistik?
Konsep poros ini memanfaatkan morfologi unik Sulawesi yang menyempit di wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Dengan membangun jalan baru sepanjang sekitar 30 kilometer, waktu tempuh distribusi logistik bisa dipotong drastis. Saat ini, jalur darat eksisting memaksa kendaraan logistik menempuh rute melingkar yang panjangnya bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat jarak poros tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Sulawesi Tengah, dalam paparan internal beberapa waktu lalu, menyebut bahwa biaya logistik ke kawasan timur terus meningkat setiap tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah panjangnya rantai distribusi darat yang harus dilewati. Poros Tambu-Kasimbar diyakini bisa menjadi game changer bagi efisiensi distribusi barang di Sulawesi Tengah.
Biaya Logistik Timur yang Kian Membengkak
Kenaikan harga bahan pokok di wilayah timur Sulawesi Tengah kerap dikeluhkan pedagang dan masyarakat. Salah satu faktornya adalah ongkos angkut yang tinggi. Seorang pengusaha transportasi di Poso mengungkapkan, biaya pengiriman semen dari Palu ke Poso saat ini bisa mencapai Rp 2.500 per kilogram, jauh lebih mahal dibandingkan pengiriman barang serupa di jalur barat yang relatif datar dan pendek.
Kehadiran poros Tambu-Kasimbar diharapkan mampu menekan angka tersebut. Dengan jarak yang lebih pendek, konsumsi bahan bakar kendaraan logistik berkurang, waktu tempuh lebih cepat, dan risiko kerusakan barang di perjalanan juga menurun. Dampaknya, harga barang di tingkat konsumen di wilayah timur bisa lebih kompetitif.
Fakta Singkat Poros Tambu-Kasimbar
- Lokasi strategis di leher Pulau Sulawesi, Kabupaten Parigi Moutong.
- Bentang darat yang perlu dihubungkan hanya sekitar 30 kilometer.
- Berpotensi memangkas jarak distribusi logistik dari barat ke timur Sulawesi Tengah.
- Menjadi proyek infrastruktur prioritas untuk menekan biaya logistik daerah.
Apa Langkah Selanjutnya?
Pemerintah daerah dan pusat saat ini masih dalam tahap kajian teknis dan pembebasan lahan untuk proyek ini. Tim dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulawesi Tengah telah melakukan survei awal di titik-titik yang menjadi calon jalur poros. Masyarakat di sekitar lokasi berharap proyek ini segera direalisasikan agar harga barang kebutuhan pokok di wilayah timur tidak lagi melambung tinggi.
Poros Tambu-Kasimbar bukan sekadar proyek jalan biasa. Jika terwujud, jalur ini bisa menjadi urat nadi ekonomi baru yang menyatukan dua kawasan besar di Sulawesi Tengah dengan biaya logistik yang jauh lebih murah dan waktu tempuh yang lebih efisien.