SULAWESI TENGAH — PT Energi Nusantara Perkasa meresmikan kilang pengolahan gas menjadi LPG di Cilamaya, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi sekitar 160 ton per hari atau setara 52.800 ton per tahun. Kilang ini disebut mampu memenuhi 10-15 persen kebutuhan LPG warga Jawa Barat dan DKI Jakarta, di tengah impor LPG nasional yang masih mencapai 7-8 juta ton per tahun.
Paragraf pembuka: Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, gas yang selama ini mengalir dari perut bumi Karawang kini diolah menjadi produk bernilai tambah. Kilang berkapasitas pengolahan terpasang 40 MMSCFD itu menyerap 82 tenaga kerja dan mengolah gas dari Pertamina Hulu.
Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk menutup kebutuhan dalam negeri. Konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, dan bisa menembus 11-12 juta ton jika ditambah kebutuhan industri petrokimia di Cilegon. Sementara kapasitas produksi dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun.
Bahlil menyebut sumber bahan baku LPG di Indonesia tidak tersebar merata. Karena itu, pembangunan kilang skala kecil dan menengah di titik-titik sumber gas menjadi kunci.
"Kita berangkat dari hal kecil untuk mencapai hal besar. Kecil gak apa-apa, tapi kalau ada beberapa titik yang seperti ini dikumpulkan, besar juga," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).
Ketergantungan impor ikut membebani anggaran negara. Saat harga minyak Indonesia (ICP) berada di kisaran 70 dolar AS per barel, subsidi LPG mencapai Rp87 triliun. Jika ICP naik ke kisaran 90-100 dolar AS per barel, angkanya mendekati Rp100 triliun.
Bahlil menilai ketidakpastian geopolitik dalam hampir tiga tahun terakhir mendorong banyak negara memperkuat energi dari dalam negeri. Indonesia, katanya, harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada.
Tantangan lain muncul dari sisi bahan baku. Gas bahan baku LNG yang dimiliki Indonesia sebagian besar berupa C1 dan C2, yang tidak cocok diolah menjadi LPG. Untuk itu, Bahlil meminta Lemigas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif.
CNG memakai gas C1 dan C2 yang melimpah di dalam negeri, dengan harga disebut 30-40 persen lebih murah. Tabung CNG 12 kilogram sudah digunakan, sedangkan tabung 3 kilogram masih dalam tahap pengujian.
"Kalau itu mampu kita adakan, maka impor kita yang 8 juta ton per tahun itu kita bisa selesaikan dengan kebutuhan yang ada dalam negeri kita," kata Bahlil.
Penutup: Kilang Cilamaya menjadi contoh bagaimana fasilitas pengolahan skala kecil di titik sumber gas bisa memperkuat pasokan domestik. Jika pemerintah konsisten membangun kilang serupa dan CNG berhasil masuk ke pasar, tekanan impor LPG yang selama ini menggerus anggaran subsidi berpeluang ditekan.