Setahun Danantara, Krakatau Steel hingga Kimia Farma Bangkit dari Kerugian

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 13:05:01 WIB
PT Krakatau Steel catat laba Rp635 miliar setelah setahun dikelola Danantara Indonesia.

SULAWESI TENGAH — Jakarta — Tepat setahun setelah Danantara Indonesia mengambil alih peran sebagai pengelola aset BUMN, sejumlah perusahaan pelat merah menunjukkan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan. Tak hanya laba yang naik, beberapa di antaranya bahkan berhasil keluar dari jurang kerugian.

CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menilai capaian ini bukan sekadar soal angka di laporan keuangan. Menurutnya, kekuatan BUMN harus diukur dari kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

"Bank Himbara itu kurang lebih nilainya sekitar Rp1.100 triliun, yang mencerminkan 10 persen dari nilai seluruh capital market atau seluruh nilai perusahaan Indonesia. Perbankan juga semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat," ujar Rosan, Rabu (1/7).

Dari Merah ke Hitam: Empat BUMN Berhasil Balik Arah

Periode April 2025 hingga April 2026 menjadi momentum kebangkitan bagi beberapa BUMN yang sebelumnya terpuruk. PT Krakatau Steel menjadi contoh paling mencolok. Perusahaan baja pelat merah itu berhasil membalikkan kerugian Rp981 miliar menjadi laba Rp635 miliar. Salah satu pemicunya adalah penurunan utang dari sekitar USD1,7 miliar menjadi USD1,1 miliar.

PT Kimia Farma juga mencatatkan perbaikan serupa. Setelah merugi Rp160 miliar, perusahaan farmasi ini membukukan laba Rp108 miliar. Sementara itu, PT Len Industri beralih dari rugi Rp228 miliar menjadi laba Rp314 miliar. PT Semen Indonesia pun mencatatkan peningkatan dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar.

Tak ketinggalan, PT Danareksa menorehkan perbaikan dari rugi Rp72 miliar menjadi laba Rp43 miliar.

Laba Pertamina dan Pupuk Indonesia Melonjak

Di sisi lain, BUMN yang sebelumnya sudah untung juga mencatatkan pertumbuhan laba yang impresif. PT Pertamina (Persero) meningkatkan laba konsolidasi dari Rp13,9 triliun menjadi Rp24,97 triliun. PT Pupuk Indonesia juga melonjak dari Rp1,59 triliun menjadi Rp4,82 triliun.

COO Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengingatkan agar perbaikan kinerja ini diikuti dengan peningkatan pembiayaan ke sektor produktif. "Perbankan BUMN memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dukungan pembiayaan harus terus diarahkan kepada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja," ujar Dony.

Menurutnya, sektor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, hingga UMKM perlu menjadi prioritas. Namun, semua harus tetap berpegang pada tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang ketat.

DPR: Daya Saing Harus Dibangun dengan Kinerja, Bukan Perlakuan Khusus

Anggota Komisi VI DPR Asep Wahyuwijaya memberikan catatan atas transformasi ini. Menurutnya, BUMN harus terus meningkatkan profesionalisme dan kualitas layanan, bukan justru bergantung pada proteksi pemerintah.

"Kita tentu ingin BUMN terus tumbuh dan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Tetapi pertumbuhan itu harus dibangun melalui kemampuan sendiri, kualitas layanan, dan kinerja yang unggul, bukan dengan budaya meminta perlakuan khusus," kata Asep.

Dengan kapitalisasi pasar gabungan bank Himbara yang mencapai Rp1.100 triliun, tekanan untuk menjaga momentum transformasi ini kini berada di pundak Danantara dan seluruh jajaran direksi BUMN. Pertanyaannya, mampukah tren positif ini bertahan di tahun kedua?

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top