DONGGALA — Lahan sederhana di samping kediaman Nengah Wantri di Desa Rio Mukti, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, berubah menjadi tempat persemaian harapan. Di lokasi itu, Nengah bersama anggota KP Maju Jaya terlihat sibuk menyiapkan dan merawat bibit tanaman pekarangan yang kelak dibagikan kepada seluruh anggota untuk ditanam di sekitar rumah masing-masing.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas bercocok tanam. Bagi para perempuan di kelompok tersebut, ada target besar yang ingin dicapai: memanfaatkan setiap jengkal lahan kosong agar mampu menopang kebutuhan dapur keluarga dan mengurangi ketergantungan pada pembelian bahan pangan harian.
Dari Kandang ke Pekarangan: Dua Program Berjalan Beriringan
Perjalanan KP Maju Jaya tidak dimulai dari tanaman. Kelompok ini sebelumnya lebih dulu dikenal aktif mengembangkan usaha peternakan babi sebagai motor penguatan ekonomi rumah tangga anggota.
Kini, fokus pengembangan bertambah. Melalui pemanfaatan pekarangan, kelompok berupaya membangun ketahanan pangan mandiri di tingkat rumah tangga. Dua kegiatan ini dijalankan secara paralel, menjadikan anggota tidak hanya terampil mengelola ternak, tetapi juga cakap mengoptimalkan sumber daya alam di sekitar hunian.
“Kami bersama seluruh anggota berkomitmen untuk menjaga dan terus mengembangkan program ini agar ke depan hasilnya semakin baik dan manfaatnya semakin besar bagi keluarga anggota kelompok,” ujar Nengah.
Peran PT Mamuang dalam Pendampingan dan Monitoring
Perkembangan KP Maju Jaya tidak lepas dari dukungan program pemberdayaan yang dijalankan PT Mamuang. Manajemen perusahaan secara berkala melakukan kegiatan monitoring dan pendampingan untuk melihat langsung progres peternakan sekaligus aktivitas pembibitan tanaman yang dikelola kelompok.
Momen pendampingan ini dimanfaatkan anggota sebagai ruang diskusi, evaluasi kegiatan, serta suntikan motivasi untuk terus berinovasi. Manajemen PT Mamuang, Susila Darmawati, menegaskan bahwa keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak diukur dari besarnya bantuan yang diberikan.
“Keberhasilan pemberdayaan tidak berhenti pada bantuan yang diberikan, tetapi terlihat dari kemampuan masyarakat dalam mengelola, mengembangkan, dan menciptakan manfaat baru dari program tersebut,” kata Susila dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Menanam Kemandirian, Menuai Ketahanan Pangan
Pengembangan tanaman pekarangan menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak program. Ketika sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari lingkungan rumah sendiri, keluarga tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi juga membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Lahan yang sebelumnya dibiarkan kosong kini mulai dipandang sebagai aset berharga. Di tangan para perempuan KP Maju Jaya, aktivitas sederhana seperti menyemai, merawat, dan menanam bibit menjadi bagian penting dari proses membangun ketahanan keluarga.
Pendampingan Berkelanjutan Kunci Keberhasilan Program
Manajemen PT Mamuang, Riky Agusrinaldy, menilai perkembangan yang dicapai KP Maju Jaya menunjukkan pentingnya pendampingan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar pemberian bantuan satu arah.
“Program yang sebelumnya dimulai dari kegiatan peternakan kini terus berkembang,” katanya. Riky berharap kelompok mampu menjaga semangat kebersamaan dan terus meningkatkan kapasitas agar manfaat program semakin besar bagi masyarakat luas.
“Ketika kegiatan ini mampu membantu ekonomi sekaligus kebutuhan pangan keluarga, maka dampak positifnya akan semakin nyata bagi masyarakat,” terang Riky.
Pembagian Peran Perkuat Kebersamaan Anggota
Di internal kelompok, proses pemberdayaan ini melahirkan dinamika baru. Sebagian anggota fokus mengurus kandang dan ternak, sementara lainnya terlibat aktif dalam pembibitan dan perawatan tanaman pekarangan. Setiap peran memiliki kontribusi yang sama pentingnya dalam menjaga roda kegiatan kelompok tetap berputar.
Semangat gotong royong inilah yang menjadi modal utama agar program tidak mandek ketika masa pendampingan selesai. Bagi Nengah Wantri, dukungan PT Mamuang memiliki arti lebih dari sekadar bantuan material. Monitoring dan pendampingan yang dilakukan membuat anggota kelompok memiliki ruang untuk berdiskusi sekaligus mendapatkan dorongan dalam mengembangkan kegiatan.