Omzet Rp 500 Ribu per Hari: Lisnawati Buktikan UMKM Morowali Tumbuh 51,9 Persen di Bayang-bayang Industri Nikel IMIP

Penulis: Hendra Wijaya  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:37:32 WIB
Lisnawati, pelaku UMKM di Desa Labota, Morowali, menata kemasan oleh-oleh khas daerahnya yang kini meraup omzet rata-rata Rp 500 ribu per hari.

Usaha oleh-oleh khas Morowali yang dirintis Lisnawati sejak 2019 kini meraup omzet rata-rata Rp 500 ribu per hari, sebuah lompatan besar dari masa-masa sulit saat penghasilannya sebagai tenaga honorer kerap habis sebelum akhir bulan. Perempuan 43 tahun asal Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, ini adalah satu dari 7.643 pelaku UMKM di kecamatan tersebut yang menyerap berkah dari kehadiran kawasan industri nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Data riset internal PT IMIP mencatat jumlah UMKM di Bahodopi melonjak 51,9 persen dalam tiga tahun terakhir, dari 5.034 unit pada 2022.

MOROWALI — Sore hari di Desa Labota, Lisnawati sibuk menata kemasan oleh-oleh khas Morowali di meja kerjanya. Gawai di tangannya bergetar berkali-kali, sebuah notifikasi yang kini ia maknai sebagai tanda perjuangan membuahkan hasil, bukan sekadar transaksi jualan biasa.

“Alhamdulillah, sekarang saya bisa beli makanan yang enak untuk keluarga,” ujarnya kepada Antara di Morowali, baru-baru ini.

Modal Rp 2 Juta dan Perjalanan 86 Kilometer yang Menggerus Untung

Perjalanan Lisnawati tidak dimulai dari titik yang mudah. Pada 2019, ia memberanikan diri memulai usaha dengan modal Rp 2 juta yang dikumpulkan dari gaji honorernya di Kantor Desa Labota. Saat itu, tiga cicilan bulanan membuat setiap rupiah terasa sangat berharga dan menjadi pendorong utamanya untuk mencari penghasilan tambahan.

Tantangan terbesarnya justru datang dari logistik. Produk oleh-oleh yang ia jual sebagian besar diproduksi orang tuanya di Wosu, Kecamatan Bungku Barat, yang berjarak sekitar 86 kilometer dari tokonya. Biaya bahan bakar kendaraan kerap menggerus habis keuntungan yang diperoleh.

“Bensin menjadi tantangan terbesar saat itu. Kalau ingin maju, jangan takut memulai,” kenangnya, menceritakan prinsip yang terus ia pegang hingga kini.

Dari Jalan Sepi ke Riuh Roda Ekonomi Bahodopi

Perlahan, kondisi mulai berubah seiring megahnya kawasan industri PT IMIP berdiri. Jalanan yang dulu sepi di Bahodopi kini riuh oleh lalu lalang pekerja, memicu tumbuhnya warung, toko, hingga rumah kontrakan di sekitarnya. Pesanan untuk usaha Lisnawati pun ikut bertambah.

Kesehariannya kini terbagi dua. Pagi hingga siang ia mengabdi sebagai tenaga honorer, sementara sore dan malam harinya ia gunakan untuk mengurus usaha, melayani pesanan, dan menyiapkan stok. Lisnawati juga aktif mengikuti bimbingan teknis yang diselenggarakan IMIP untuk pelaku UMKM di wilayah ring-1 industri.

“Semoga IMIP sering buat kegiatan seperti itu,” harapnya, seraya menyebut omzet usahanya kini stabil di angka rata-rata Rp 500 ribu per hari.

Busra: Dari Guru Honorer ke Senior Staff di Balik Gerbang IMIP

Kisah serupa datang dari Busra, yang memilih menyeberang dari ruang kelas ke tengah hiruk-pikuk industri. Lulusan Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar ini mengawali karier sebagai guru honorer di Madrasah Aliyah dengan honor Rp 350 ribu per bulan yang kerap diterima terlambat.

“Senang melihat perkembangan murid. Dari tidak tahu menjadi tahu. Semuanya saya syukuri karena itu adalah awal perjalanan karier saya,” tuturnya mengenang masa pengabdiannya selama hampir empat tahun.

Keputusan besar diambilnya pada 2010. Ia memberanikan diri melamar ke PT Bintangdelapan Mineral (BDM), cikal bakal kawasan IMIP, yang menawarkan gaji di atas Rp 3 juta. “Yang penting diterima dulu, apa saja pekerjaannya asal halal,” katanya kala itu.

Lima tahun berselang, seiring transformasi perusahaan, Busra dialihkan ke PT IMIP yang berfokus pada industri pengolahan nikel. Ia kini menjabat sebagai Senior Staff Administrasi di Departemen External Affairs dan menjadi saksi bagaimana Bahodopi berubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menarik ribuan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia.

Dua Sisi Mata Uang: Antara Peluang dan Tantangan Baru

Data riset Tim Research and Support PT IMIP menunjukkan pertumbuhan UMKM di Kecamatan Bahodopi mencapai 51,9 persen dalam tiga tahun terakhir. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa efek berganda (multiplier effect) dari industri nikel tidak hanya dinikmati korporasi, tetapi juga merembes ke ekonomi kerakyatan di sekitarnya.

Bagi Lisnawati, mimpi besarnya masih menunggu di depan mata. Ia ingin memiliki toko oleh-oleh yang lebih besar agar produk khas Morowali semakin dikenal luas. “Harus optimis, jangan pesimis. Kalau ingin maju, jangan takut memulai dan terus semangat menjalankan usaha,” pesannya kepada perempuan lain yang ingin menapaki jalan serupa.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top