LUWUK — Ratusan jam terbang dan pengalaman liputan tidak otomatis membuat seorang wartawan kompeten. Hal itu yang coba diukur dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diikuti 18 jurnalis dari tiga kabupaten di Sulawesi Tengah, Senin (7/9/2026) hingga Selasa (8/9/2026).
Kegiatan pra-UKW yang digelar di Sekretariat PWI Kabupaten Banggai, Jalan Samratulangi, Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, menjadi tahap awal sebelum peserta menghadapi ujian sesungguhnya.
Materi Uji Berbeda di Setiap Jenjang Kompetensi
Temu Sutrisno yang bertindak sebagai penguji menjelaskan, materi yang diujikan tidak seragam. Peserta kategori muda, madya, dan utama mendapat porsi ujian yang berbeda sesuai kebutuhan profesi.
Untuk kategori muda, peserta diminta memahami peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pers. Sementara itu, wartawan yang mengikuti kategori madya perlu menguasai penyusunan perencanaan liputan, termasuk liputan investigasi dan penulisan feature.
Adapun peserta kategori utama diharapkan memahami materi tajuk dan rubrikasi. "Hanya itu materi yang kami berikan," ujar Temu.
Masih Ada Wartawan yang Gagal Ujian
Temu mengingatkan para peserta agar tidak menganggap UKW sekadar formalitas administratif. Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan UKW sebelumnya masih terdapat wartawan yang dinyatakan tidak kompeten setelah mengikuti ujian.
Karena itu, persiapan matang dengan memahami materi menjadi kunci kelulusan. Ia juga meminta peserta terus meningkatkan kemampuan jurnalistik sebelum hari-H ujian.
Menulis Jangan Asal Jadi
Penguji lainnya, Mahmud Matangara, mendorong wartawan untuk terus mengasah kreativitas dan kualitas karya. Menurutnya, kemampuan menulis feature dan tajuk rencana menjadi keterampilan yang perlu terus dilatih.
Ia juga menyoroti kebiasaan wartawan yang menulis berita sekadar memenuhi target publikasi. "Menulis jangan asal jadi," kata Mahmud.
Salah satu unsur yang ditekankan Mahmud adalah teras berita atau lead. Bagian ini harus mampu merangkum inti informasi dengan narasi singkat dan menarik karena menjadi gerbang pertama bagi pembaca.
Wartawan Bukan Buzzer
Temu Sutrisno turut mengingatkan soal maraknya praktik buzzer atau pendengung di ruang digital. Menurutnya, hal itu dapat mengikis independensi pers yang menjadi prinsip dasar jurnalisme.
Ia bersama Mahmud juga memberikan penjelasan kepada peserta mengenai perbedaan mendasar antara media massa dan media sosial. Dua saluran ini memiliki fungsi dan karakter yang berbeda dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Temu berharap UKW mampu mendorong wartawan meningkatkan profesionalisme, kompetensi, dan kualitas karya jurnalistik. "Tetap pegang prinsip independensi dalam menjalankan tugas," pesannya. *