SULAWESI TENGAH — Ketegangan di Timur Tengah memang membuat harga minyak dunia roller coaster dalam dua pekan terakhir. Pada Kamis (23/7/2026), harga minyak Brent sempat melonjak 7 persen ke US$ 100,69 per barel — tertinggi sejak Mei — setelah serangan di Laut Merah dan ancaman militer Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. Namun, sentimen mereda pada Senin (27/7/2026) setelah Iran dikabarkan akan menangguhkan serangan jika AS menghentikan konflik. Alhasil, harga Brent turun 4,88 persen ke US$ 92,49 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) ambles lebih dari 5 persen ke US$ 84,84 per barel.
Harga BBM di SPBU Tidak Berubah Sejak Awal Juli
Meski minyak mentah sempat terbang, Pertamina memilih tidak mengubah harga jual BBM-nya. Berdasarkan pantauan di Jakarta, Senin (27/7/2026), daftar harga masih mengacu pada penetapan 1 Juli 2026. Pertalite dibanderol Rp 10.000 per liter, solar subsidi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax Rp 16.250 per liter.
Untuk varian non-subsidi, Pertamax Turbo dijual Rp 19.300 per liter, Pertamax Green Rp 17.000 per liter, Dexlite Rp 19.700 per liter, dan Pertamina Dex Rp 21.150 per liter. Artinya, selama sebulan penuh Juli, tidak ada satu pun produk Pertamina yang naik atau turun.
Shell dan BP Ikut Stabil, Stok Solar Shell Kembali Normal
Kondisi serupa terjadi di SPBU swasta. Shell misalnya, yang sempat mengalami kelangkaan stok solar sejak awal 2026, kini sudah menjual V-Power Diesel kembali dengan harga Rp 21.340 per liter — sama sejak 1 Juli. Sementara itu, BP juga tidak mengubah harga bensin dan solarnya. BP Ultimate masih Rp 17.240 per liter, BP 92 Rp 16.670 per liter, dan BP Ultimate Diesel Rp 21.340 per liter.
Kebijakan ini membuat harga BBM nonsubsidi milik ketiga operator nyaris identik. Pertamax misalnya hanya berbeda tipis dengan BP 92, sementara solar nonsubsidi Pertamina Dex dan V-Power Diesel sama-sama di kisaran Rp 21.000-an.
Mengapa Harga BBM Dalam Negeri Tak Ikut Fluktuasi Minyak Dunia?
Pemerintah melalui Pertamina biasanya tidak langsung me