SULAWESI TENGAH — Piala Dunia 2026 belum genap sepekan berjalan, namun sejumlah kontroversi bernuansa politik sudah mewarnai gelaran akbar sepak bola ini. FIFA, yang selama ini dikenal tegas melarang campur tangan politik dalam statuta organisasinya, justru dihadapkan pada serangkaian keputusan yang memicu perdebatan publik.
Kartu Merah Balogun dan Campur Tangan Trump
Keputusan paling kontroversial datang saat FIFA secara resmi menangguhkan hukuman kartu merah langsung yang diterima penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Dengan keputusan itu, Balogun tetap bisa bermain di babak 16 besar.
FIFA mengumumkan keputusan tersebut tanpa memberikan penjelasan rinci. Situasi semakin panas setelah Donald Trump mengakui bahwa dirinya telah berbicara dengan Gianni Infantino soal kasus Balogun. Pengakuan itu langsung memicu pertanyaan soal sejauh mana pengaruh politik masuk ke dalam keputusan teknis FIFA.
Penghargaan Perdana untuk Trump yang Dikritik
Kedekatan Infantino dengan Trump sudah terlihat sejak pengundian Piala Dunia 2026. Saat itu, Infantino menyerahkan penghargaan perdana FIFA Peace Award kepada Trump. Momen ini mendapat kritik tajam dari berbagai pihak. FIFA dinilai tidak seharusnya memberikan penghargaan khusus kepada kepala negara yang kebijakan imigrasinya justru menyulitkan delegasi tim peserta.
Staf Iran dan Wasit Somalia Jadi Korban
Sejak awal turnamen, sejumlah insiden imigrasi mencoreng penyelenggaraan. Beberapa staf teknis tim nasional Iran dilaporkan tidak mendapat izin masuk ke Amerika Serikat. Rombongan tim Iran juga sempat mengalami kendala terkait akomodasi.
Masalah serupa menimpa wasit asal Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk oleh petugas imigrasi AS. Menanggapi kasus tersebut, Infantino hanya berkomentar singkat: "Tenang saja." Respons minim itu membuat banyak pihak mempertanyakan sikap FIFA dalam melindungi para ofisialnya sendiri.
Pakistan Jadi Contoh Inkonsistensi FIFA
Ironisnya, FIFA selama ini kerap menjatuhkan sanksi kepada federasi yang dianggap mendapat intervensi pemerintah. Pakistan menjadi contoh paling nyata—dalam delapan tahun terakhir, negara itu sudah tiga kali terkena sanksi FIFA karena campur tangan pemerintah terhadap federasi sepak bolanya.
Namun, situasi di Piala Dunia 2026 justru menunjukkan wajah berbeda. Hubungan dekat Infantino dengan Trump dan keputusan kontroversial soal Balogun membuat statuta FIFA yang tegas itu terlihat selektif dalam penerapannya.