PALU — UPT Museum dan Taman Budaya Sulawesi Tengah menggandeng Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Untad untuk membuka ruang belajar sejarah di luar kelas. Kuliah umum di Aula FKIP Untad itu menghadirkan Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Sulteng Dr. Rim, M.Hum., Dekan FKIP Untad Dr. Jamaludin, M.Si., serta Koordinator Prodi Pendidikan Sejarah Dr. Hasan, M.Hum.
Museum Goes to Campus baru pertama kali dijalankan sejak museum didirikan pada 1978. Formatnya kuliah umum, bukan kunjungan museum seperti biasa.
Dekan FKIP Untad Dr. Jamaludin menilai museum punya fungsi langsung bagi kegiatan akademik. Banyak mahasiswa FKIP menjalani penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan objek koleksi museum.
"Keberadaan museum sangat penting bagi lingkungan FKIP. Salah satu bentuk peran nyatanya terlihat dari kontribusi dalam mendukung penyelesaian studi mahasiswa, di mana banyak mahasiswa kami yang melakukan penelitian dan penyelesaian tugas akhir di museum," ungkap Jamaludin.
Kolaborasi ini disebutnya memperkuat pemahaman sejarah mahasiswa lewat pengalaman belajar di luar ruang kelas.
Koordinator Prodi Pendidikan Sejarah Dr. Hasan menyoroti pentingnya mahasiswa mengenal sumber sejarah dan warisan budaya secara langsung. Menurutnya, museum dan dunia akademik perlu terus berjalan berdampingan.
"Kegiatan ini menjadi ruang pembuktian bahwa museum dan dunia akademik harus terus berjalan berdampingan. Kami berharap sinergi antara program studi dan pihak museum dapat terus diperkuat guna mendukung peningkatan literasi sejarah para mahasiswa," ujar Hasan.
Program ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa pembelajaran sejarah tidak berhenti di buku teks.
Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Sulteng Dr. Rim menegaskan komitmen memperluas jangkauan museum. Caranya dengan mendekatkan koleksi, pengetahuan sejarah, dan kebudayaan ke kalangan akademisi.
"Program Museum Goes to Campus ini dirancang untuk mendekatkan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa. Melalui program perdana ini, kami berharap dapat mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya daerah Sulawesi Tengah," kata Rim.
Lewat program tersebut, museum diharapkan makin berperan sebagai ruang pembelajaran dan penelitian sejarah. Kerja sama dengan perguruan tinggi juga menjadi jalur pelestarian warisan budaya Sulteng ke depan.