SULAWESI TENGAH — Cabang olahraga e-sport Sumatera Barat menegaskan posisinya bukan sekadar permainan biasa setelah menyumbang medali emas untuk kontingen Sumbar di PON Aceh-Sumut 2024. Kini e-sport kembali diandalkan pada Porprov XVI Sumbar 2026 yang dipusatkan di Kota Padang, dengan 19 kabupaten/kota mengirimkan atlet terbaiknya.
Pengprov E-Sport Indonesia (ESI) Sumatera Barat mencatat sejarah tersendiri ketika lima medali emas yang diraih kontingen Sumbar di PON 2024 salah satunya berasal dari cabang e-sport. Capaian itu sekaligus menjawab stigma yang selama ini melekat bahwa e-sport hanya sekadar main game.
Ketua Harian Pengprov ESI Sumbar Robby Febriansyah menyampaikan hal itu dalam sambutan pembukaan Porprov XVI Sumbar 2026 di Kota Padang. Ia menegaskan e-sport kini berdiri sejajar dengan cabang olahraga lain di bawah naungan KONI.
"E-Sport sebagai salah satu cabang olahraga di bawah naungan KONI dan bahkan cabang olahraga yang berprestasi di Sumatera Barat," ujarnya.
Robby mengungkapkan perjuangan panjang agar e-sport diakui sebagai cabang olahraga resmi. Sejak 2020, pengurus harus bekerja keras hingga titik yang ia gambarkan nyaris meneteskan air mata demi mendapat pengakuan masyarakat umum.
Prestasi di PON Aceh-Sumut 2024 menjadi pembuktian. Dari lima emas yang dibawa kontingen Sumbar, satu di antaranya disumbangkan cabang e-sport.
"Kita dikatakan main game tapi alhamdulillah kita buktikan di tahun kemarin di 2024 Aceh dan Sumut kita dapat medali emas. Lima emas yang diperoleh oleh Sumatera Barat salah satunya adalah dari cabang olahraga e-sport," tegas Robby disambut tepuk tangan hadirin.
Kepada para atlet yang berlaga di Porprov XVI, Robby meminta mereka tampil maksimal demi mengharumkan nama daerah masing-masing. Ajang ini ia harapkan menjadi kawah candradimuka bagi talenta baru e-sport Ranah Minang.
"Berkaryalah, bermainlah dan berprestasilah dengan baik untuk membawa nama kabupaten kota masing-masing karena ini adalah suatu langkah yang konkrit yang jelas," pesannya.
Target jangka panjangnya, atlet yang muncul dari Porprov bisa berbicara banyak di PON NTB dan NTT 2028.
"Harapan kita acara ini menjadi ajang untuk mencari bakat talenta-talenta baru agar kita bisa berbicara di PON NTB dan NTT tahun 2028 besok," pungkasnya.
Apresiasi datang dari Ketua Panitia Besar Porprov XVI 2026, Editiawarman. Ia menyebut e-sport sebagai contoh paling profesional dan tertib di tengah sejumlah cabang olahraga lain yang bermasalah dengan perubahan nomor kelas pertandingan di tengah jalan.
Panitia Besar menemukan adanya cabor yang memainkan nomor pertandingan tidak sesuai Technical Handbook (THB). E-sport, menurut Editiawarman, tidak mengalami persoalan itu.
"Kami lihat sangat profesional, nomor pertandingannya lima sangat jelas, THB jelas, di sini tercantum, pendaftaran mengacu ke situ, tidak ada perubahan di TM, nah ini bagus kita kasih applause untuk e-sport," tegasnya.
Panitia sebenarnya sudah memberi toleransi waktu panjang bagi cabor yang ingin memperbaiki data, termasuk saat perpanjangan pendaftaran hingga sehari setelah penguncian. Bagi cabor yang tetap tidak mengikuti prosedur, PB Porprov mengeluarkan edaran tegas dan mewajibkan rapat khusus mencari solusi.
"Dan kami senang di e-sport hal itu alhamdulillah tidak terjadi sehingga dari awal sampai akhir kami yakin bisa berjalan dengan sebaik-baiknya," katanya.
Editiawarman mengingatkan esensi Porprov tidak berhenti pada perburuan medali. Ajang ini juga menjadi ruang silaturahmi antar-atlet dan daerah.
"Ajang olahraga ini tentu kita mencari medali, mencari peserta terbaik. Namun tidak hanya itu di ajang olahraga ini kita bersilaturahim, mencari teman, mencari relasi," pungkasnya.
Porprov XVI Sumbar 2026 mempertemukan atlet dari 19 kabupaten/kota. Cabang e-sport mempertandingkan lima nomor sesuai THB yang ditetapkan panitia, tanpa perubahan di technical meeting.