SULAWESI TENGAH — Upacara bendera di halaman Kantor Pelindo Regional 4 Makassar pada Senin (17/8/2026) berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di balik deru aktivitas bongkar muat pelabuhan, jajaran manajemen Pelindo Group Wilayah Kerja Makassar mendengarkan amanat yang tidak hanya bicara soal seremoni, tetapi arah kebijakan perusahaan ke depan.
Wakil Direktur Utama Pelindo Drajat Sulistyo membacakan amanat Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar yang menekankan perubahan cara pandang terhadap geografi Indonesia. Laut tidak lagi diposisikan sebagai pemisah antar-pulau, melainkan urat nadi pemersatu ekonomi bangsa.
"Laut adalah pemersatu, pelabuhan adalah penghubung, dan konektivitas merupakan urat nadi perekonomian bangsa. Kemerdekaan harus diisi melalui karya nyata menjaga kedaulatan ekonomi dan memperkuat pemerataan pembangunan," tegas Drajat.
Persoalan yang diangkat Pelindo kali ini cukup mendasar: keadilan sosial yang belum merata. Selisih harga barang kebutuhan pokok yang mencolok antara Pulau Jawa dan wilayah timur Indonesia, serta antara kota besar dan pulau-pulau terluar, merupakan cerminan dari tingginya biaya logistik nasional.
Untuk menjawab persoalan itu, Pelindo tidak hanya fokus mempercantik pelabuhan-pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, atau Makassar. Perusahaan pelat merah ini berkomitmen menyamakan standar pelayanan, keselamatan, dan mutu di pelabuhan kecil serta dermaga perintis di wilayah 3T.
Upaya ini dijalankan lewat penurunan waktu tunggu kapal (idle time) dan masa tambat (dwelling time), sekaligus peningkatan produktivitas bongkar muat. Efisiensi ini diharapkan menjaga keterjangkauan harga barang bagi warga di pelosok dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
Di tengah perayaan kemerdekaan, Pelindo tidak menutup mata terhadap duka kemanusiaan yang melanda Nusa Tenggara Timur akibat gempa bumi. Seluruh pekerja di wilayah operasional terdampak bencana diminta meningkatkan kewaspadaan penuh dan memastikan kesiapan alat medis serta fasilitas tanggap darurat.
"Tidak ada target operasional yang lebih penting daripada keselamatan manusia," demikian pesan tertulis Achmad Muchtasyar.
Memasuki era integrasi BUMN di bawah naungan Danantara Indonesia, Pelindo terus mendorong optimalisasi aset-aset strategis negara agar memberikan nilai ekonomi berkelanjutan. Tekanan datang dari dinamika geopolitik, pergeseran pola perdagangan dunia, dan persaingan ketat antarpelabuhan internasional.
Para port captain dan jajaran pelabuhan diminta bergerak cepat, adaptif, dan berani melakukan pembenahan fundamental. Lewat perayaan HUT ke-81 RI di Makassar ini, Pelindo menegaskan posisinya bukan sekadar pengelola dermaga, melainkan benteng kedaulatan ekonomi yang menghubungkan asa dari pulau ke pulau.