SULAWESI TENGAH — Agus menyampaikan hal tersebut di sela-sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Kamis (30/7). Ia merinci produksi kendaraan bermotor nasional tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara wholesales naik 15,9 persen menjadi 436 ribu unit.
"Indonesia sedang berpindah dari pasar menjadi basis produksi. Semester I tahun 2026 memberi kita bukti yang menggembirakan," ujarnya.
Yang menarik dari paparan Agus adalah perubahan komposisi industri. Ekspor kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) naik 7,7 persen. Namun lompatan jauh lebih besar terjadi pada ekspor completely knocked down (CKD) yang melonjak 38 persen dan komponen yang tumbuh 46 persen.
Di sisi lain, impor kendaraan utuh justru turun 49 persen. Agus menilai empat indikator tersebut menunjukkan Indonesia mulai mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai industri otomotif global.
"Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor kendaraan. Kita telah mulai mengekspor kemampuan untuk membuat kendaraan," kata Agus.
Meski produksi menguat, Agus mengingatkan potensi pasar domestik masih jauh dari jenuh. Rasio kepemilikan mobil nasional baru sekitar 99 unit per 1.000 penduduk. Angka ini tertinggal jauh dari Thailand yang mencapai 275 unit dan Malaysia sekitar 490 unit per 1.000 penduduk.
Dengan populasi sekitar 284 juta jiwa, setiap kenaikan satu poin rasio kepemilikan setara tambahan permintaan sekitar 280 ribu kendaraan. Agus menegaskan ruang pertumbuhan itu harus diisi produk dalam negeri, bukan impor.
"Ruang tumbuh sebesar itu tidak boleh diisi oleh produk impor. Ruang itu harus diisi oleh produksi dalam negeri," tegasnya.
Dengan tren semester pertama yang positif, Agus optimistis target penjualan domestik sebesar 850 ribu unit hingga akhir tahun dapat tercapai. Keyakinan ini tidak lepas dari gelaran GIIAS 2026 yang menjadi momentum peningkatan permintaan konsumen.
Pernyataan Menperin ini sejalan dengan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang menunjukkan penguatan di sisi produksi dan ekspor. Jika tren ini berlanjut, posisi Indonesia di peta manufaktur otomotif global akan semakin kokoh, bukan sekadar pasar penjualan.