SIGI — Festival Hutan Ranjuri yang digelar di Desa Beka, Kecamatan Marawola, bukan sekadar acara tahunan. Pemerintah Kabupaten Sigi menjadikannya momentum untuk memperkuat fungsi kawasan itu sebagai hutan penyangga yang melindungi permukiman warga dari bencana hidrometeorologi.
Heru Murtanto menyebut hutan Ranjuri memiliki keistimewaan yang jarang ditemukan di daerah lain. Selain menyimpan pepohonan purba, kawasan ini memiliki tujuh sumber mata air dan beragam tumbuhan yang digunakan masyarakat sebagai media pengobatan tradisional.
"Hutan Ranjuri menjadi hutan penyangga bagi masyarakat di Desa Beka dari ancaman bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor," kata Heru, Kamis.
Pemerintah daerah berencana menindaklanjuti status hukum kawasan ini agar perlindungannya lebih kuat. Heru menyebut proses pengurusan alas hak dan penataan kawasan sedang dikaji agar hutan Ranjuri tetap lestari untuk generasi mendatang.
"Nanti tinggal pemerintah daerah akan menindaklanjuti bagaimana statusnya hutan Ranjuri ini akan menjadi legal formal termasuk bagian penataan," ujarnya.
Luas hutan yang mencapai 9 hektare dengan usia diperkirakan 600 tahun membuka peluang besar bagi dunia akademik. Heru menegaskan kawasan ini secara akademis layak dijadikan sarana pendidikan dan laboratorium penelitian bagi mahasiswa maupun ilmuwan.
Pemerintah juga mendorong pengembangan ekowisata yang menyentuh pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan promosi yang tepat, warga Desa Beka bisa merasakan dampak ekonomi dari kunjungan wisatawan tanpa merusak ekosistem hutan.
Desa Beka berada di wilayah yang rentan terhadap bencana alam. Keberadaan hutan Ranjuri dengan tutupan pohon lebat berfungsi sebagai penahan tanah dan penyerap air alami. Jika kawasan ini rusak, risiko longsor dan banjir bandang di pemukiman warga meningkat drastis.
Festival Hutan Ranjuri menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya soal pariwisata, melainkan investasi keselamatan jangka panjang bagi masyarakat.