SULAWESI TENGAH — Pembukaan perdagangan hari ini menjadi kelanjutan tren negatif yang sudah terlihat sejak pekan lalu. Rupiah bergerak seirama dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Yen Jepang ambles 0,14 persen, baht Thailand kehilangan 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Mata uang utama negara maju pun tak luput dari tekanan; euro, poundsterling, hingga dolar Australia kompak berada di zona merah.
Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi dua faktor utama yang membuat rupiah sulit bernapas. Pertama, eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini menciptakan ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven, seperti dolar AS.
Kedua, faktor musiman. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebutkan adanya lonjakan kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri. “Peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen,” jelasnya pada Jumat (29/5) lalu. Arus masuk dolar AS yang terbatas di saat kebutuhan membengkak membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif. Rentang pergerakan hari ini diprediksi berada di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. “Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung,” ujar Lukman. Ia menambahkan, pasar juga mengantisipasi data inflasi dan perdagangan domestik yang akan dirilis besok.
Di sisi lain, ada secercah harapan. Harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah. Penurunan harga komoditas energi ini berpotensi mengurangi beban impor migas Indonesia, sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar bisa sedikit mereda.
Menghadapi situasi ini, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas. “Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” tegas Ramdan. Artinya, intervensi tidak hanya dilakukan di pasar spot domestik, tetapi juga melalui instrumen sekuritas dan operasi moneter lainnya secara nonstop.
Bagi investor dan pelaku bisnis, situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra. Pelemahan rupiah yang berkepanjangan akan berdampak langsung pada biaya impor bahan baku, nilai utang dalam dolar, dan daya beli masyarakat. Sementara itu, eksportir justru bisa diuntungkan dari nilai tukar yang lebih kompetitif. Investasi mengandung risiko.
Catatan Redaksi: Artikel ini telah disesuaikan dengan konteks waktu fiktif (1 Juni 2026) berdasarkan bahan yang diberikan. Seluruh data dan kutipan merujuk pada sumber asli.