Qari Internasional Mikdan Buka Pembinaan Khusus Peserta MTQ XXXI Sulteng di Sigi, Soroti Kesiapan Mental dan Minimnya Dukungan Pemda

Penulis: Hendra Wijaya  •  Senin, 25 Mei 2026 | 08:55:01 WIB
Qari Internasional Mikdan memfokuskan pembinaan peserta MTQ Sulteng pada kesiapan mental dan teknik tilawah.

SIGI — Tidak hanya soal teknik melafalkan ayat, persiapan menuju MTQ XXXI Sulteng di Sigi juga menyentuh aspek mental. Qari Internasional Ustadz H. Mikdan, yang juga Kepala KUA Kecamatan Dampelas, mengaku intensif melatih kepercayaan diri peserta agar tidak gugup saat tampil di mimbar tilawah.

Simulasi Mimbar hingga Aturan Penilaian Dewan Hakim

Dalam pembinaan yang digelar Ahad (24/5) sore itu, Mikdan memberikan materi teknis mulai dari pemahaman aturan lomba, kriteria penilaian di setiap cabang dan golongan, hingga simulasi suasana saat berada di atas panggung.

“Peserta diberikan bimbingan terkait aturan lomba dan aspek-aspek yang menjadi penilaian dewan hakim. Mereka juga dilatih simulasi bagaimana kondisi saat berada di mimbar tilawah agar lebih siap dan percaya diri,” jelas Mikdan.

Peserta yang mengikuti pembinaan berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Fokusnya pada cabang seni baca Al-Quran kategori anak-anak, remaja, dewasa, serta cabang qiraat Al-Quran murattal dan mujawwad.

Mental Jadi Faktor Penentu, Bukan Sekadar Suara Merdu

Menurut Mikdan, persaingan di tingkat provinsi sangat ketat. Banyak peserta memiliki kemampuan vokal dan tajwid yang hampir setara. Karena itu, kesiapan mental menjadi pembeda.

“Kesiapan mental terus kami latih agar peserta memiliki rasa percaya diri ketika tampil,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kemahiran membaca Al-Quran bukan sekadar untuk memenangkan lomba. Lebih dari itu, harus menjadi kebiasaan sehari-hari yang mendatangkan keberkahan.

Pembinaan Mandiri di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

Mikdan mengakui, dukungan pemerintah terhadap pembinaan peserta selama ini baru terasa saat pelaksanaan Training Center (TC) resmi menjelang MTQ. Di luar momen itu, ia melakukan pembinaan secara mandiri di sela-sela tugasnya sebagai Kepala KUA.

“Kami selama ini lebih banyak melakukan pembinaan secara mandiri. Banyak peserta yang ingin tetap dibimbing walaupun tidak menjelang MTQ,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dan LPTQ Sulteng memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan berkelanjutan, mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi. Ia juga menyoroti nasib para pembina dasar yang kerap dilupakan begitu peserta berhasil meraih juara.

“Setidaknya pemerintah juga memperhatikan para pembina yang mengajar dasar. Karena sering kali ketika peserta sudah menjadi juara, para pembina dasar seperti terlupakan,” pungkasnya.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: media.alkhairaat.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top