Sebanyak 103 jiwa dari 68 kepala keluarga (KK) terdampak banjir bandang yang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah. Pemkab Parimo menyalurkan makanan siap saji karena warga tidak memungkinkan memasak akibat rumah mereka masih dipenuhi lumpur.
PALU — Banjir bandang yang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, memaksa belasan keluarga mengungsi ke rumah kerabat. Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo mencatat 12 rumah warga rusak dan 50 rumah lainnya terendam lumpur.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, mengatakan situasi darurat membuat warga tidak bisa beraktivitas normal. Material lumpur dan gelondongan kayu bahkan sempat menutup Jalan Trans Sulawesi, sehingga mobilitas warga terganggu.
Pemkab Parimo langsung bergerak menyalurkan logistik. Sebanyak 50 bungkus makanan siap saji didistribusikan sejak pagi untuk korban bencana. Jumlah itu kemudian ditambah untuk makan siang sekaligus konsumsi relawan di lapangan.
"Warga tidak bisa memasak sehingga kami distribusi logistik makanan siap saji kepada warga terdampak," kata Moh Rivai dihubungi dari Palu, Rabu.
Kebutuhan makan tiga kali sehari—pagi, siang, dan malam—menjadi prioritas utama. Selain makanan, suplai air bersih juga telah didistribusikan ke lokasi bencana.
Sebanyak 12 KK atau sekitar 103 jiwa terdampak langsung banjir bandang ini. Warga yang rumahnya rusak berat saat ini mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
Pemerintah setempat tengah menyiapkan tenda pengungsian dan melakukan pendataan lanjutan. BPBD Parimo juga segera mendirikan posko induk sebagai pusat informasi dan tempat menampung logistik bantuan, sesuai arahan kepala daerah.
"Kami segera mendirikan posko pengungsian, termasuk mendirikan posko induk sebagai pusat informasi dan tempat menampung logistik bantuan sebagaimana arahan kepala daerah," ujar Rivai.
Peristiwa ini turut berdampak pada satu pabrik durian di kawasan tersebut. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa dalam musibah ini.
Pemkab Parimo telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. Pemerintah berkomitmen memulihkan situasi dan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) untuk kepentingan normalisasi sungai.
"Kami meminta warga tetap tenang. Pemerintah berkomitmen memulihkan situasi, sebagaimana ditetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan," kata Rivai.