Korem 132/Tadulako Tuntaskan 53 Jembatan Garuda di Sulteng, Sisa Satu Unit Rampung Pekan Ini

Penulis: Gunawan Susilo  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:39:02 WIB
Peresmian Jembatan Garuda di Desa Bahagia, Kabupaten Sigi, menandai progres pembangunan 53 unit jembatan yang hampir rampung seluruhnya oleh Korem 132/Tadulako.

Komando Resor Militer (Korem) 132/Tadulako memastikan pembangunan 53 unit Jembatan Garuda di Sulawesi Tengah hampir rampung seluruhnya, dengan satu unit tersisa yang pengerjaannya sudah di atas 90 persen. Peresmian jembatan terbaru dilakukan di Desa Bahagia, Kabupaten Sigi, Jumat, sekaligus menandai target penyelesaian yang dikejar sebelum akhir pekan ini.

SIGI — Pembangunan infrastruktur perdesaan di Sulawesi Tengah memasuki babak akhir. Korem 132/Tadulako melaporkan progres fisik 53 unit Jembatan Garuda yang tersebar di wilayahnya sudah mencapai hampir 100 persen, menyisakan satu unit yang masih dalam tahap penyelesaian akhir.

"Untuk di wilayah Korem 132/Tadulako atau di Sulawesi Tengah saat ini hampir semua sudah selesai dikerjakan 100 persen, tinggal satu unit masih di atas 90 persen proses pengerjaanya. Mungkin dalam minggu ini juga akan selesai," kata Komandan Korem (Danrem) 132/Tadulako Brigjen TNI Suntara Wisnu Budi Hidayanta saat meresmikan jembatan Aramco Kodim 1306 Kota Palu di Desa Bahagia, Sigi, Jumat.

Satu Jembatan Tambahan Dikejar Rampung Akhir 2026

Setelah menuntaskan 53 unit jembatan, Korem 132/Tadulako tidak berhenti. Instansi TNI AD itu mendapat mandat baru untuk membangun lima jembatan tambahan di Sulteng dengan target penyelesaian akhir Desember 2026.

Peresmian Jembatan Aramco di Desa Bahagia menjadi penanda penting. Jembatan ini diharapkan menggerakkan roda perekonomian lokal dengan membuka akses warga menuju area perkebunan, pasar, fasilitas kesehatan, dan lembaga pendidikan.

Petani 90 Persen Warga Desa Bahagia, Jembatan Jadi Kebutuhan Vital

Desa Bahagia, yang merupakan kawasan pemukiman transmigrasi sejak 1965, selama ini kesulitan mengakses lahan produktif. Kepala Desa Bahagia Jaki Hadisuparto menuturkan, sebelum ada Jembatan Garuda, warga harus menyeberangi sungai secara langsung untuk mencapai persawahan dan perkebunan.

"Tentunya keberadaan jembatan garuda ini tetap menjadi kebutuhan vital untuk memangkas waktu dan jarak tempuh," ucap Jaki.

Kondisi itu kian krusial karena mayoritas warga, sekitar 90 persen, menggantungkan hidup dari sektor pertanian—baik hortikultura, sawah, maupun perkebunan. Saat banjir melanda, warga terpaksa memutar lewat jalan lingkar yang jauh lebih panjang untuk sampai ke kebun.

Solusi Konkret atas Mobilitas yang Terhambat Bertahun-tahun

Kehadiran jembatan ini langsung berdampak pada aktivitas harian. Angkutan hasil pertanian kini bisa melintas lebih cepat, memperlancar distribusi dan mengurangi biaya operasional petani.

"Manfaat jembatan ini sangat besar karena memudahkan angkutan hasil pertanian dan memperlancar aktivitas harian masyarakat," katanya.

Desa Bahagia saat ini dihuni 303 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.039 jiwa yang tersebar di dua dusun dan enam rukun tetangga (RT). Jaki menyebut infrastruktur penyeberangan baru ini menjadi solusi konkret atas kendala mobilitas yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top