PALU — Akumulasi penderita HIV/AIDS di Kota Palu mencapai 2.024 kasus, dengan penambahan 54 kasus baru dalam periode terakhir. Angka ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota Palu dan Dinas Kesehatan dalam upaya menekan laju penularan.
Dari total 2.024 kasus yang tercatat secara kumulatif, 54 kasus baru ditemukan pada periode terkini. Dinas Kesehatan Kota Palu mencatat bahwa kelompok usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun, masih mendominasi angka kasus baru. Faktor utama penularan masih didominasi oleh hubungan seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik tidak steril.
Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Kesehatan telah mengintensifkan skrining di puskesmas dan rumah sakit. Pasien yang terdeteksi positif langsung diarahkan untuk menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara gratis. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu menekankan bahwa kepatuhan minum obat adalah kunci utama menekan risiko penularan lebih lanjut.
"Kami terus mendorong warga yang berisiko untuk melakukan tes HIV secara sukarela. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk hidup sehat dan mencegah penularan ke orang lain," ujar Kepala Dinkes Kota Palu dalam keterangan resminya.
Selain faktor perilaku berisiko, rendahnya kesadaran untuk melakukan tes HIV secara rutin menjadi kendala utama. Banyak penderita baru ditemukan pada stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi lebih kompleks. Dinkes Palu juga menyoroti masih adanya stigma di masyarakat yang membuat warga enggan memeriksakan diri.
Pemerintah pusat menargetkan eliminasi HIV/AIDS pada tahun 2030. Di tingkat kota, Pemkot Palu berupaya memperluas akses layanan tes dan pengobatan ke seluruh kecamatan. Program pencegahan melalui edukasi di sekolah dan komunitas juga terus digalakkan.
Dinkes Palu mengimbau masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV. Layanan tersedia di seluruh puskesmas dan rumah sakit umum daerah secara gratis dan rahasia.