SULAWESI TENGAH — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membagikan dividen sekitar Rp 50,63 triliun sepanjang kalender 2026, terdiri atas dividen tahun buku 2025 senilai Rp 44,47 triliun dan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp 6,16 triliun. Pembagian jumbo ini berjalan seiring pertumbuhan kredit dan laba bank only yang tetap dua digit hingga Agustus 2026.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyatakan dividen interim diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham atas kinerja perseroan. Meski begitu, kata dia, keputusan itu tetap mempertimbangkan kebutuhan modal untuk ekspansi dan antisipasi risiko bisnis.
“Kami ingin pemegang saham dapat menikmati hasil kinerja Bank Mandiri lebih awal melalui dividen interim. Besarannya tetap memperhatikan kebutuhan modal untuk ekspansi dan mengantisipasi risiko, sehingga Bank Mandiri dapat terus mengembangkan bisnis dan menghasilkan laba yang mendukung imbal hasil berkelanjutan bagi pemegang saham,” ujar Novita dalam keterangan di Jakarta, Kamis (22/10/2026) malam.
Modal Tetap Dijaga di Tengah Bagi Hasil
Novita menegaskan, realisasi laba, kecukupan modal, likuiditas, dan kebutuhan pengembangan usaha menjadi empat faktor yang wajib dipertimbangkan sebelum menetapkan besaran dividen. Tujuannya agar imbal hasil bagi pemegang saham tidak menggerus kapasitas bank dalam menyalurkan kredit.
Hingga Agustus 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp 1.592 triliun atau tumbuh 17,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga naik dengan laju sama, yakni 17,6 persen YoY, menjadi Rp 1.687 triliun.
Angka itu melampaui pertumbuhan DPK industri yang sebesar 13,7 persen. Artinya, Bank Mandiri mencatat pangsa pasar dana simpanan yang lebih besar dibanding rata-rata perbankan nasional pada periode yang sama.
Kualitas Aset dan Laba Ikut Menguat
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non-performing Loan/NPL) gross Bank Mandiri berada di level 1 persen. Rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage ratio) tercatat 240,6 persen, angka yang menunjukkan bantalan modal cukup tebal terhadap potensi gagal bayar.
Pada periode Januari–Agustus 2026, laba bersih Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp 37,5 triliun, tumbuh 22,3 persen YoY. Pertumbuhan laba ini menjadi salah satu penopang utama kemampuan perseroan membagikan dividen dalam nominal besar.
Menjaga Imbal Hasil Tanpa Mengorbankan Ekspansi
Manajemen Bank Mandiri menyatakan akan menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil kepada pemegang saham dan penguatan kapasitas bisnis. Langkah itu ditempuh agar pertumbuhan perusahaan dapat berlangsung berkelanjutan, bukan hanya dalam satu siklus pembagian dividen.
Bagi investor, kombinasi dividen Rp 50,63 triliun dan pertumbuhan laba 22,3 persen menempatkan Bank Mandiri sebagai salah satu emiten perbankan dengan imbal hasil paling menarik di pasar modal Indonesia. Sementara bagi nasabah dan pelaku usaha, penyaluran kredit yang tumbuh 17,6 persen menandakan ruang pembiayaan tetap terbuka meski bank membagikan laba lebih awal ke pemegang saham.
Posisi likuiditas yang tebal, dengan DPK Rp 1.687 triliun, memberi Bank Mandiri ruang untuk terus menyalurkan kredit pada sisa tahun buku 2026 tanpa harus menahan pembagian dividen.