PALU — Kunjungan Duta Besar Rusia ke Sulawesi Tengah menjadi ruang bagi pemerintah daerah memperkenalkan potensi wilayah sekaligus menjajaki kerja sama lintas negara. Dhandy Adhi Prabowo menilai pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi diplomatik, melainkan pintu masuk pembahasan yang lebih teknis di sejumlah sektor.
Menurut Dhandy, salah satu tujuan utama kunjungan tersebut adalah investasi dan pendidikan. Dua bidang itu dinilainya paling terbuka untuk ditindaklanjuti dengan pembahasan konkret antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pihak terkait.
Di sektor pendidikan, Dhandy menyebut kerja sama dapat menjadi sarana meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Tengah. Adapun di bidang kesehatan, pengenalan perusahaan-perusahaan Rusia yang memiliki teknologi dan peralatan medis diharapkan membuka peluang pertukaran pengetahuan.
“Ini merupakan momentum penting dan positif bagi Sulawesi Tengah. Kita mengetahui bahwa salah satu tujuan utama kunjungan Duta Besar Rusia ke Sulawesi Tengah adalah terkait investasi dan pendidikan,” ujar Dhandy.
Politikus Komisi III DPRD Sulteng itu menambahkan, teknologi kesehatan menjadi salah satu aspek yang bisa dikembangkan melalui pengenalan peralatan medis dari perusahaan Rusia. Pertukaran informasi dinilai lebih realistis sebagai langkah awal ketimbang kerja sama yang langsung berskala besar.
Sulawesi Tengah masih menghadapi persoalan defisit listrik yang diperkirakan mencapai 160 megawatt. Kondisi itu, menurut Dhandy, perlu menjadi perhatian bersama agar kebutuhan energi terpenuhi seiring perkembangan investasi dan aktivitas ekonomi daerah.
Dalam konteks itu, peluang pertukaran informasi dan pengenalan teknologi energi dari Rusia dinilai layak dijajaki. Termasuk teknologi pembangkit listrik sebagaimana dipaparkan salah satu perusahaan pembangkit listrik milik negara Rusia dalam pertemuan tersebut.
Dhandy menegaskan, setiap peluang kerja sama di sektor energi perlu dikaji secara komprehensif. Aspek keselamatan, kelayakan teknis dan ekonomi, dampak lingkungan, regulasi, serta kebutuhan energi Sulawesi Tengah harus menjadi pertimbangan utama.
Daerah yang memiliki beragam potensi sumber daya alam, pertanian, perikanan, pariwisata, dan investasi dinilai punya ruang menjalin kolaborasi dengan mitra internasional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dhandy berharap peluang yang dijajaki melalui kunjungan tersebut ditindaklanjuti dalam bentuk pembahasan lebih konkret.
“Harapan kita, kunjungan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat ditindaklanjuti dengan komunikasi dan pembahasan yang lebih konkret, sehingga peluang kerja sama yang ada benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Sulawesi Tengah,” harapnya.
Hubungan baik yang terjalin melalui kunjungan itu diharapkan berdampak positif bagi warga Sulawesi Tengah, khususnya dalam mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.