Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah mencatat komoditas besi baja dan nikel mendominasi 71,52 persen total nilai ekspor provinsi itu pada Agustus 2026. Kedua komoditas hasil hilirisasi tambang tersebut menyumbang 1.728,86 juta dolar AS dari total ekspor Sulteng yang mencapai 2.417,50 juta dolar AS. Dominasi ini menegaskan posisi Sulawesi Tengah sebagai salah satu penopang utama ekspor logam olahan nasional.
PALU — Kepala BPS Sulawesi Tengah Daryanto menyampaikan bahwa besi baja mencatat nilai ekspor terbesar, yakni 1.164,18 juta dolar AS, atau berkontribusi 48,16 persen terhadap total ekspor provinsi pada Agustus 2026. Sementara nikel berada di posisi kedua dengan nilai pengiriman 564,68 juta dolar AS atau 23,36 persen.
Angka tersebut dihimpun dari kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Tengah yang nilainya mencapai 2.417,50 juta dolar AS pada bulan yang sama.
Selain dua komoditas utama, bahan bakar mineral menempati urutan ketiga dengan nilai ekspor 398,07 juta dolar AS atau menyumbang 16,47 persen. Daryanto menyebut tiga kelompok komoditas utama ini menguasai lebih dari 88 persen total aktivitas ekspor Sulawesi Tengah pada Agustus 2026.
"Tentunya apabila digabungkan, tiga kelompok komoditas utama ini menguasai lebih dari 88 persen total aktivitas ekspor Sulawesi Tengah pada bulan Agustus," kata Daryanto.
Komoditas lain yang turut menyumbang kinerja ekspor daerah meliputi aluminium senilai 123,54 juta dolar AS atau 5,64 persen, serta bahan kimia anorganik sebesar 131,61 juta dolar AS atau 4,84 persen.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor besi baja Sulawesi Tengah menembus 9.119,64 juta dolar AS. Angka itu mencatatkan peranan dominan 53,02 persen terhadap total ekspor kumulatif daerah yang mencapai 17.201,37 juta dolar AS.
Untuk komoditas nikel, akumulasi hingga Agustus 2026 menyumbang 3.578,74 juta dolar AS atau setara 20,80 persen dari total nilai ekspor daerah.
"Ini merupakan tren peningkatan performa komoditas hasil olahan industri pengolahan tambang ini terus menjaga kinerja neraca perdagangan Sulawesi Tengah tetap mencatatkan surplus," ujar Daryanto.
Dominasi besi baja dan nikel mencerminkan peran hilirisasi industri pengolahan tambang terhadap struktur ekspor Sulawesi Tengah. Daryanto menilai tren peningkatan performa komoditas olahan tersebut turut menjaga neraca perdagangan daerah tetap surplus.
Data BPS ini menjadi gambaran terkini bahwa basis ekspor Sulawesi Tengah masih bertumpu pada logam olahan, dengan besi baja dan nikel sebagai dua penopang terbesarnya.